Belakangan ini LED (Light Emitting Diode) menjadi booming lantaran LED merupakan solid state of light
yang bakalan menggantikan sumber cahaya lain yang dinilai sudah usang.
Mengapa? Karena LED mempunyai banyak keunggulan daripada sumber cahaya
lain, namun di balik semua keunggulan itu LED juga mempunyai kekurangan.
Keunggulan LED yang paling utama adalah hanya
membutuhkan paling sedikit energi listrik daripada sumber cahaya lain,
dalam hal intensitas cahaya yang dihasilkan. Itu sebabnya LED
diaplikasikan ke peralatan rumah tangga maupun peralatan elektronik yang
lain seperti televisi.
Namun, dalam perkembangannya sekarang ini. Dari
sekian banyak LED yang beredar dari hasil banyak pabrik di luar negeri.
Ada banyak hal yang harus dipikirkan masyarakat awam mengenai LED ini.
Sudah ada pabrik besar yang memproduksi lampu
LED, tapi harganya selangit. Memang untuk investasi lampu LED yang mahal
itu lebih murah dilihat dari segi kualitas lampu, masa pemakaian lampu,
dan pemangkasan biaya tagihan listrik. Namun dari segi intensitas
cahaya belum tentu dapat memenuhi keinginan konsumen yang kebanyakan
masih mengacu dengan terang lampu Compact Fluorescent Lamp (CFL) yang sudah banyak dipakai dan beredar di pasaran.
Perlu diketahui bahwa tidak semua LED itu cocok
untuk semua aplikasi. Jadi ada banyak varian yang diperuntukan untuk
masing-masing aplikasi tertentu, seperti halnya LED yang dipakai untuk
televisi kemungkinan masih bisa dipakai untuk telepon seluler, tapi
tidak untuk dipakai dalam aplikasi lampu penerangan jalan.
LED itu adalah nama komponen elektronik, sedangkan LED lamp
(lampu LED) itu adalah salah satu produk jadi dari sekian banyak produk
LED seperti televisi maupun telepon seluler. Dalam satu lampu LED bisa
saja terdiri lebih dari satu komponen LED, hal ini semata-mata hanya
untuk menambah intensitas cahaya yang dihasilkan dari lampu LED
tersebut.
Lampu LED pada umumnya adalah tipe downlight (cahayanya mengarah ke bawah) seperti halnya lampu etalase di toko-toko perhiasan, jam tangan, maupun toko-toko lainnya. Hal
ini dikarenakan keunggulan dan kekurangan LED itu sendiri, dimana LED
diproduksi dan didesain mengeluarkan cahaya yang bersinar terang pada
sudut tertentu dari LED tersebut, jadi tidak lagi diperlukan reflector
(rumah lampu pijar untuk mengarahkan dan memperkuat intensitas sinar
yang dihasilkan lampu pijar).
Untuk memahami karakteristik LED, Anda harus
mengerti bagaimana dioda itu bekerja, karena LED adalah varian dari
komponen dioda. Dalam tulisan ini saya tidak akan menjelaskan
karakteristik dioda secara detail seperti halnya dalam mata pelajaran
Fisika maupun mata kuliah Elektronika Dasar.
Dioda biasanya digunakan untuk menyearahkan arus bolak-balik (AC: alternating current) menjadi arus searah (DC: direct current).
LED akan menyala apabila ada arus yang mengalir melewatinya, berarti
LED juga dapat digunakan dalam tegangan AC, hanya saja juga ikut
berkedip dan berhubung mata kita tidak dapat melihatnya maka terlihat
menyala terus, karena tegangan AC yang kita pakai adalah 50 Hz (Hertz;
artinya 50 kali hidup-mati dalam waktu 1 detik).
Nah, dalam realitanya, LED tidak dapat langsung
digunakan seperti halnya lampu pijar yang dapat langsung digunakan
memakai tegangan AC 220 Volts yang biasanya dihasilkan oleh PLN dan
dialirkan ke semua rumah maupun kantor. Hal ini juga berbeda tiap
negara, di negara kita besarnya adalah 220 Volts.
Seperti halnya peralatan elektronika yang lain,
untuk memakai LED tegangan harus diturunkan terlebih dahulu dan lebih
baik diubah menjadi tegangan DC. Setahu saya, tidak ada LED yang memakai
tegangan hingga 220 V, meskipun ada juga High Power LED yang memakai
tegangan hingga 40 V. Ada banyak cara menurunkan dan mengubah tegangan
AC menjadi DC, yaitu Power Supply (kita biasa mengenal dengan nama adaptor).
Power Supply biasanya memakai transformator (trafo) dan rangkaian elektronik penyearah, namun ada juga yang tidak memakai transformator (Transformatorless Power Supply), seperti halnya charger telepon seluler yang bertipe Switching Power Supply (memakai IC Power),
dan ada juga yang hanya memakai rangkaian paralel antara resistor dan
kapasitor kemudian langsung terhubung rangkaian elektronik yang lain
seperti LED.
Saya tidak men-judge, tapi dari segi elektronika tidak dianjurkan memakai secara langsung dari power grid
(listrik dari PLN) dengan rangkaian elektronik yang kita gunakan,
terlebih lagi apabila akan digunakan dalam waktu yang lama setiap
harinya; karena ada resiko kebakaran dan seseorang dapat tersengat arus
listrik yang besar. Switching Power Supply masih layak digunakan apabila
komponen yang digunakan juga baik kualitasnya, namun tidak halnya
dengan rangkaian paralel resistor dan kapasitor.
Kebanyakan lampu LED yang murah (lebih murah
daripada lampu LED pabrik terkenal, namun tetap saja mahal dibandingkan
CFL) biasanya made in China dengan menggunakan LED yang made in China juga. Sekali lagi saya tidak men-judge
sama rata, hanya saja biasanya lampu LED menggunakan rangkaian paralel
resistor dan kapasitor untuk dialirkan ke LED yang ada pada lampu LED,
dan biasanya juga LED yang digunakan adalah LED dengan kualitas yang
kurang bagus.
Untuk memberikan penilaian kualitas sebuah
lampu LED, kita tidak dapat hanya memberikan penilaian berdasarkan sinar
yang dihasilkannya pada saat kita ingin membelinya. LED juga punya masa
pakai, yang bagus biasanya 50 ribu jam lebih, bahkan 100 ribu jam;
tentunya hal ini sesuatu hal yang tidak mungkin kita buktikan saat kita
ingin membelinya, tapi saat kita sudah membeli dan mencoba memakainya
sendiri. Secara teori, LED yang baik adalah LED yang dapat menghasilkan
intensitas sinar yang sama selama masa pakai yang lama pula (minimal 50
ribu jam pemakaian).
Instalasi untuk penggunaan lampu LED dari segi
desain tidak sama dengan lampu CFL. Lampu LED lebih cenderung artistik,
tidak seperti halnya di kebanyakan rumah hanya menggunakan satu titik
lampu CFL untuk menerangi satu ruangan. Jika saya boleh jujur,
penggunaan penerangan satu titik lampu untuk satu ruangan adalah sesuatu
yang kurang bagus.
Mengapa? Karena sudut ruangan yang jauh dari sumber
penerangan akan terlihat gelap dan daerah yang dekat dengan sumber
penerangan akan terlihat terang sekali. Kemudian biasanya juga, kita
akan mengambil solusi menambah jumlah Watt lampu yang digunakan, dan hal
ini berarti pemborosan; lihat saja tagihan listrik bulan depan. Di
sinilah keunggulan lampu LED, bisa digunakan di banyak titik dalam satu
ruangan dan seluruh ruangan mendapatkan cahaya yang lebih rata. Ini juga
yang menyebabkan banyak orang berpendapat lampu LED kurang terang
dibandingkan lampu CFL, karena mereka masih mengikuti pemikiran
penerangan ruangan memakai dasar seperti pemasangan lampu CFL. Hal ini
juga yang menyebabkan banyak pihak lebih suka untuk memasang lampu LED
pada bangunan baru daripada bangunan lama, karena untuk memakai lampu
LED harus menata kembali titik-titik lampu (fitting listrik untuk lampu) pada ruangan tersebut.
Kekurangan LED yang lain adalah untuk pemakaian LED 1 Watt ke atas (High Power LED), dibutuhkan heat sink
sebagai pendingin, karena High Power LED mengeluarkan panas yang harus
dialihkan dan dibuang agar tidak merusak LED itu sendiri. Biasanya kita
dapat melihat pada casing lampu LED produksi pabrik-pabrik yang menggunakan kisi-kisi aluminium pada casing-nya, ini digunakan untuk membuang panas LED yang digunakan pada lampu LED tersebut.
Bagaimana kita dapat mulai mengadopsi
penggunaan LED dalam kehidupan sehari-hari? Hal ini tentunya berhubungan
dengan keadaan finansial kita masing-masing. Apabila dana kita
terbatas, kita dapat memulainya dengan memodifikasi atau mengganti
lampu-lampu yang relatif lebih kecil dan jarang digunakan dengan lampu
LED, seperti lampu duduk meja belajar, lampu penerangan malam hari
sewaktu seluruh orang tidur (biasanya tidak terlalu terang), lampu
taman, lampu penerangan teras, atau bahkan lampu darurat (emergency lamp) dan lampu senter (torch).
Dari pengalaman saya, saya sudah memakai lampu LED Philips
yang saya beli dari nitip temen di USA dan hasilnya kurang memuaskan
dan memakai tegangan AC 110 Volts; mahal pula (sekitar US$35 per bulb).
Untuk itu saya kemudian memutuskan untuk mencoba sendiri mencari jalan
tengah, tidak terlalu mahal dan memang tidak terlalu murah (LED masih
import) namun saya dapat memakainya dalam kehidupan sehari-hari.
Saya pribadi mulai mengadopsi LED dengan
memodifikasi lampu duduk meja belajar yang kebetulan waktu itu lampunya
sudah habis masa pakai; daripada beli lagi, mendingan saya modifikasi
dengan LED. Kemudian akhirnya lampu malam, lampu-lampu di rumah, hingga
akhirnya lampu garasi dan teras rumah. Yang terakhir, saya memakai LED
untuk sepeda motor dan mobil. Hei, tagihan listrikku jadi turun; bisa
main komputer sampe malam, pakai mesin cuci lebih sering, dll. Lampu
depan sepeda motor jadi lebih terang dan klaksonnya (saya pakai klakson
mobil) jadi lebih nyaring, begitu juga dengan mobilku. He..he..he… :)
Masih ada hubungannya dengan LED, waktu saya
membeli LED dari luar negeri jadi mahal sekali dibandingkan harga jual
ritel lokal. Padahal semestinya hanya terkena bea masuk (BM) 10% tanpa PPN, akan tetapi karena petugas bea cukainya sengaja atau tidak sengaja, hingga akhirnya LED yang saya beli dari luar negeri terkena BM 5% dan PPN 10%. Saran saya, seharusnya petugas bea cukai lebih mengerti dan memahami Harmonized System (HS) yang digunakan untuk klasifikasi barang import, dan sebaiknya LED tidak dikenakan BM karena semakin banyak yang memakai LED, berarti semakin kurang juga penggunaan listrik nasional.
Semoga hal ini bermanfaat bagi Anda semua.
Sumber : Kompasiana.com
Jakarta: Anda pengguna Google berhati-hatilah memberikan data pribadi. Ternyata situs mesin pencari terbesar itu menjual data pribadi konsumen hingga pengguna bisa menjadi target iklan yang ada di situs tersebut. Komisi Uni Eropa menilai hal itu melanggar rancangan hukum privasi Uni Eropa.
Dugaan jual beli data pengguna Google itu mencuat setelah situs mesin pencari itu meluncurkan kebijakan privasi baru, belum lama ini. Regulasi terbaru dari Google itu memungkinkan untuk digabungkannya 60 kebijakan menjadi satu. Artinya Google bisa menggunakan data pribadi dari situs Google mana saja, termasuk Gmail dan YouTube. Ujung-ujungnya pengguna Google akan menjadi target iklan situs itu.
Kritikus juga mengatakan banyak pengguna internet yang tidak sadar dengan perubahan tersebut.
Ide untuk menciptakan banyak akun tentu merusak keinginan pengguna yang menginginkan penggunaan internet secara cepat dan mudah. Jadi pilihan yang mereka berikan sangat lemah dan tidak memecahkan persoalan tentang berapa banyak data milik pengguna yang dimiliki oleh sebuah perusahaan.
Menjual data pribadi seseorang merupakan bisnis besar untuk perusahaan internet. Dan menurut Direktur Komunikasi Google Peter Barron, hal itu merupakan pilihan yang tepat bagi mereka.
"Saat masyarakat pengguna Google bisa menggunakan berbagai pelayanan kami. Dan yang mereka inginkan adalah pengalaman tanpa batas, mereka ingin semuanya berfungsi. Jadi yang kami lakukan adalah mengkombinasikan berbagai servis untuk menjawab lebih banyak, hasil lebih baik dan informasi yang lebih baik untuk pengguna kami," jelas Barron.
Namun pengamat perlindungan data Prancis mengkhawatirkan legalitas dari kebijakan itu. Komisi Uni Eropa mengumumkan pengetatan hukum perlindungan data bulan lalu. Mereka memaksa Google, Facebook, dan Yahoo untuk meminta izin sebelum menjual informasi konsumennya. Google menolak untuk menunggu sampai hukum tersebut diberlakukan. Belum jelas apa sanksi yang akan dikenakan bila mereka tetap menolak.(DSY)
Dugaan jual beli data pengguna Google itu mencuat setelah situs mesin pencari itu meluncurkan kebijakan privasi baru, belum lama ini. Regulasi terbaru dari Google itu memungkinkan untuk digabungkannya 60 kebijakan menjadi satu. Artinya Google bisa menggunakan data pribadi dari situs Google mana saja, termasuk Gmail dan YouTube. Ujung-ujungnya pengguna Google akan menjadi target iklan situs itu.
Kritikus juga mengatakan banyak pengguna internet yang tidak sadar dengan perubahan tersebut.
Ide untuk menciptakan banyak akun tentu merusak keinginan pengguna yang menginginkan penggunaan internet secara cepat dan mudah. Jadi pilihan yang mereka berikan sangat lemah dan tidak memecahkan persoalan tentang berapa banyak data milik pengguna yang dimiliki oleh sebuah perusahaan.
Menjual data pribadi seseorang merupakan bisnis besar untuk perusahaan internet. Dan menurut Direktur Komunikasi Google Peter Barron, hal itu merupakan pilihan yang tepat bagi mereka.
"Saat masyarakat pengguna Google bisa menggunakan berbagai pelayanan kami. Dan yang mereka inginkan adalah pengalaman tanpa batas, mereka ingin semuanya berfungsi. Jadi yang kami lakukan adalah mengkombinasikan berbagai servis untuk menjawab lebih banyak, hasil lebih baik dan informasi yang lebih baik untuk pengguna kami," jelas Barron.
Namun pengamat perlindungan data Prancis mengkhawatirkan legalitas dari kebijakan itu. Komisi Uni Eropa mengumumkan pengetatan hukum perlindungan data bulan lalu. Mereka memaksa Google, Facebook, dan Yahoo untuk meminta izin sebelum menjual informasi konsumennya. Google menolak untuk menunggu sampai hukum tersebut diberlakukan. Belum jelas apa sanksi yang akan dikenakan bila mereka tetap menolak.(DSY)
Sumber : Metrotvnews.com
LONDON - Kemajuan teknologi robot dapat
menggantikan tentara manusia di medan perang. Kemungkinan ini tentu
bukan isapan jempol semata. Seperti film Terminator, robot-robot
mendominasi medan perang dan lebih efektif dalam menumpas musuh.
Apa yang terjadi di film Terminator ternyata dapat terelasisasi di medan pertempuran saat ini. Itu artinya, baku tembak di pertempuran bisa digantikan oleh robot, seiring meningkatnya protes banyaknya tentara manusia yang tewas di medan laga.
Diperkirakan, perang di masa depan akan lebih banyak dimainkan oleh robot-robot berteknologi tinggi. Tujuan utamanya untuk meminimalisir jumlah korban prajurit yang bertempur. "Kini, sekitar 8.000 robot telah diterjunkan di medan perang. Mereka dipercaya akan membawa misi revolusi militer. Sebagian besar robot kini diterjunkan ke darat dengan tugas non-tempur seperti penjinakkan bom dan pesawat tanpa awak," paparnya.
Quinn mengutarakan, di masa depan sangat menjanjikan penggunaan lebih banyak tentara robot di medan tempur, termasuk kendaraan perang tanpa awak manusia. "Semakin dekat, Anda akan ditembak. Inilah kelebihan robot yang mampu dikendalikan dari jarak jauh," paparnya, seperti dikutip dari BBC.
Apa yang terjadi di film Terminator ternyata dapat terelasisasi di medan pertempuran saat ini. Itu artinya, baku tembak di pertempuran bisa digantikan oleh robot, seiring meningkatnya protes banyaknya tentara manusia yang tewas di medan laga.
Diperkirakan, perang di masa depan akan lebih banyak dimainkan oleh robot-robot berteknologi tinggi. Tujuan utamanya untuk meminimalisir jumlah korban prajurit yang bertempur. "Kini, sekitar 8.000 robot telah diterjunkan di medan perang. Mereka dipercaya akan membawa misi revolusi militer. Sebagian besar robot kini diterjunkan ke darat dengan tugas non-tempur seperti penjinakkan bom dan pesawat tanpa awak," paparnya.
Quinn mengutarakan, di masa depan sangat menjanjikan penggunaan lebih banyak tentara robot di medan tempur, termasuk kendaraan perang tanpa awak manusia. "Semakin dekat, Anda akan ditembak. Inilah kelebihan robot yang mampu dikendalikan dari jarak jauh," paparnya, seperti dikutip dari BBC.
Dia menegaskan, robot-robot bersenjata itu hanya dioperasikan dibawah
kontrol tentara manusia. Alasannya, hingga kini, kata dia, robot tidak
dapat beroperasi sendiri. Namun, menurut Peter Singer, penulis buku
Wired for War, kecepatan perang modern akan membuat kontrol manusia
semakin sulit.
Seperti halnya sistem pertahanan artileri otomatis yang diterapkan di
Afghanistan. "Sistem tersebut akan menembak jika ditembak. Kita tidak
dapat menghentikannya, kita hanya dapat mengaktifkannya," papar Singer.
Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana jika robot tersebut menyerang target yang tidak seharusnya dan melanggar hukum perang? Akademisi Amerika Serikat Patrick Lin yang bekerja untuk membuat etika robot untuk militer, mengungkapkan, robot dapat diprogram untuk mengikuti standar tertentu.
Meski demikian, dia tetap mempertanyakan, "Benarkah kita dapat melakukan itu dengan komputer kita?" ujarnya. Saat ini, Amerika Serikat (AS) telah menggunakan robot-robot canggih di pertempuran, baik itu di Irak maupun di Afghanistan.
Pentagon telah membuat kendaraan tanpa pengemudi yang disebut EATR. Robot mobil itu dapat mengisi ulang bahan bakar sendiri dengan materi organik ketika berjalan jarak jauh. Penemu EATR, Dr Robert Finkelstein dari Robotic Technology Inc, mengungkapkan, penemuannya membutuhkan bahan-bahan organik sebagai bahan bakar dan lebih vegetarian dibandingkan manusia.
"Robot hanya dapat melakukan apa yang diprogramkan, dan dia memiliki fitur-fitur tertentu," tambahnya. Menurut Finkelstein, robot mampu menghindari kesalahan yang dilakukan prajurit manusia. Dia menuturkan, robot diprogram dengan secukupnya dan dibuat agar sedikit melakukan kesalahan seperti membunuh warga tak bersalah, dan kelompok bukan musuh.
"Robot tidak memiliki ikatan emosional, mereka tidak memiliki rasa takut, mereka dapat bertindak dalam beberapa situasi," ungkapnya. Namun, pihak yang lebih skeptis seperti Profesor Noel Sharkey, pendiri Komite Internasional untuk Kontrol Robot Bersenjata, mengatakan manusia lebih akuntabel sedangkan mesin tidak.
"Anda dapat melatih robot seperti apa pun yang Anda inginkan, dan menjadikannya mematuhi semua aturan di dunia. Tapi, jika apa yang diprogramkan tidak benar, jadi ya begitulah," paparnya.
Dengan revolusi militer, Christopher Coker dari the London School of Economics, menjelaskan, komputer tidak mampu menstimulasikan "etos pahlawan", pemikiran, dan etika tentara profesional. Selama ini, revolusi militer robot telah diterapkan dalam pesawat udara seperti pesawat tanpa awak milik AS di Afghanistan.
Sedangkan penerapan robot di darat, masih terbatas. Sementara itu, Yoshiyuki Sankai, pakar robot ternama dari Jepang, menciptakan HAL (hybrid assistive limb), yaitu pakaian robotik yang telah dikembangkan untuk membantu gerakan dan menambah tenaga orang yang memakainya.
Sankai menerima undangan resmi dari Departemen Pertahanan Jepang untuk mempresentasikan "pakaian robot" yang dibuatnya. Sedanngkan Brian Hart yang kehilangan putranya, John Hart, yang gugur dalam perang Irak pada Oktober 2003, membuat Brian sukses menciptakan robot pendeteksi bom.
Dia pun membuat sebuah kendaraan robot yang dirancang khusus untuk menjinakkan bom. Robot yang dinamakan LandShark (Hiu Darat) itu dilengkapi sejumlah sensor canggih yang dapat mendeteksi dan menonaktifkan bom
Seperti yang kita tahu bahwa dewasa ini memang Kemajuan kecerdasaan buatan meningkat dengan sangat mengagumkan. Dimulai dari lahirnya Deep Blue yang diciptakan oleh IBM, yang mampu mengalahkan pecatur legendaris Kaskarov. Serta proyek ambisius negara Jepang untuk menciptakan komputer generasi ke 5 yang berbasis Artificial Intellegence.
Tapi tahukah kamu bahwa pengembangan - pengembangan robot semacam ini telah ada sejak zaman dahulu, Ternyata bentuk robot atau makhluk yang seperti robot telah ada sebelum jaman masehi. Kita mungkin telah mengenal beberapa legenda masyarakat eropa tentang Golem (Makhluk seperti manusia yang terbentuk dari batu atau tanah liat) atau para pembantu Hephaestus yang terbuat dari mesin – mesin dari Yunani. Tapi tidak hanya berupa imajinasi saja, Ctesibius dari Alexandria (250 SM) telah berhasil membuat organ (alat musik) otomatis.
Lalu sarjawan muslim, Al – Jazari (1136 – 1206 ) yang membuat sebuah rancangan tentang robot yang dapat diprogram. Robot menurut etimologinya berarti pekerja, yang bekerja keras, atau budak. Robot dapat diartikan sebagai mechanical creature (makhluk yang berbentuk seperti mesin). Keinginan manusia untuk menciptakan sebuah makhluk cerdas yang dapat bekerja tanpa protes dan patuh telah dilakukan sejak jaman renessaince hingga kini. Mulai dari sekedar rancangan dan impian lalu kini telah menjadi kenyataan
Demikian pula kemajuan embedded system khususnya dibidang robotika. Kelahiran P3 yang menjadi cikal bakal ASIMO sebagai robot humanoid yang telah diterapkan untuk membantu manusia, telah menunjukkan betapa dahsyatnya perkembangan teknologi embedded khususnya bidang robotika.
Perkembangan robot saat ini ternyata dipandang positif oleh departemen militer Amerika Serikat. Dimulai dari proyek pesawat tanpa awak yang digunakan pada perang teluk II dan hingga robot yang mampu mendeteksi arah tembakan sniper. Pengembangan robot yang mampu menggantikan tentara manusia di medan perang tidak mustahil telah dilakukan oleh negara – negara maju. Makalah ini berfokus kepada kehadiran robot militer di masa depan, dimana di satu pihak kehadiran robot ini oleh pengembangnya dipandang dapat menurunkan angka kematian prajurit. Di pihak yang lain, keberadaannya hanya memperburuk keadaan saat ini.
Kemajuan perangkat keras khususnya mikroprosessor dan mikrokontroller turut serta mengambil bagian dalam teknologi robot. Mikroprosessor yang menjadi bagian terpenting dalam teknologi robot, mengakibatkan robot tidak lagi hanya dapat berjalan, tetapi dapat tersenyum, tertawa, sedih dengan melihat keadaan sekitar seperti Kismet robot buatan Dr Cynthia. Penemuan ini lalu mengakibatkan pembuatan robot tidak hanya berkonsentrasi pada gerak, jumlah kaki dan tugas kerja saja. Keinginan untuk dapat membuat robot yang memiliki perasaan seperti layaknya manusia dan kecerdasaan seperti manusia pun mulai dilakukan. Mimpi ini mungkin telah diwakili oleh film – film animasi Jepang seperti Astro Boy atau Doraemon.
Jepang merupakan negara yang menghabiskan dana terbesar dalam riset dan proyek penelitian robot. Hal ini dapat dilihat dari implementasi robot yang dilakukan oleh negara ini. Mulai dari robot pelayan yang menyajikan makanan hingga robot yang mampu menggantikan seorang presenter televisi.
Sisi ambisius manusia dalam pengembangan robot ternyata tidak hanya berhenti pada bidang pelayanan umum. Keinginan membuat sebuah alat perang yang tidak mungkin menolak perintah dan tidak ragu dalam mengerjakan misi tentunya menjadi impian para petinggi militer di negara manapun juga.
Prajurit manusia dianggap memiliki banyak sekali kelemahan, seperti moral yang kadang naik dan turun. Keterlibatan perasaan saat menjalankan misi dan kemampuan untuk membangkang dari perintah. Hal ini juga tidak terlepas dari kurangnya minat para pemuda di negara maju untuk menjadi tentara. Sehingga wajib militer pun harus dikeluarkan. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah ketika seorang prajurit gugur di medan perang, kepada keluarga yang ditinggalkan.
Hal – hal seperti diatas lah yang mengakibatkan sebuah robot yang dapat berperang dan menggantikan peran tentara di medan perang sangat dibutuhkan.
Bila dilihat dari sisi ekonomis tentunya ini lebih murah dibanding biaya yang harus dikeluarkan untuk mentraining seorang manusia untuk dapat menjadi tentara yang baik.
Dari sisi delivery, robot tentara lebih unggul dari prajurit manusia. Robot tentara dapat diproduksi masal. Bisa jadi sebuah pabrik dapat menghasilkan puluhan ribu robot dalam sebulannya, dibandingkan harus mencari dan merekut pemuda yang berusia 18 – 25 tahun.
Banyak sekali keuntungan yang bisa diperoleh oleh sebuah negara jika mampu mengembangkan robot tentara ini. Tidak ada lagi prajurit yang harus dikobarkan, dan tidak ada lagi keluarga prajurit yang harus menangis karena sanak keluarganya tewas di medan pertempuran.
Amerika sebagai negara adikuasa tentunya sudah memikirkan masak – masak tentang robot – robot yang mampu berperang. Kehadiran pesawat tempur tanpa awak dalam perang teluk ke II sudah menunjukkan keseriusan militer Amerika dalam pengembangan embedded system, kecerdasaan buatan dan teknologi robot di bidang militer.
Seperti yang telah kita ketahui, internet mulanya adalah proyek Departement of Defense Amerika Serikat untuk membuat sebuah sistem komunikasi yang tidak akan mudah hancur karena serangan fisik. Teknologi wireless seperti handphone yang kini telah menjadi kebutuhan sehari – hari komunikasi di Indonesia, juga tidak terlepas dari kebutuhan militer yang berkeinginan agar setiap prajurit dapat berkomunikasi dengan pusat komando dengan mudah. Atau di Indonesia sendiri, penggunaan robot oleh tim Gegana dalam menjinakkan bom juga termasuk contoh implementasinya.
Israel sendiri sebagai negara yang memiliki hubungan tidak baik dengan para negara tetangganya juga dikabarkan telah mengembangkan tank – tank wireless yang dapat dikendalikan dari jarak jauh. Tentunya hal ini sangat luar biasa bila dilihat dari sisi teknologi embedded. Dapat saja terjadi di masa depan dimana setiap instrumen – instrumen militer dapat digerakkan dari jarak ribuan kilometer.
Jika tadi kehadiran robot – robot militer dilihat dari sudut pandang yang menguntungkan, tetap saja robot – robot militer tersebut tetap memiliki tujuan yang sama dengan tentara manusia yaitu sebagai alat yang digunakan untuk menghancurkan musuh. Tetap saja sasaran – sasaran yang dihancurkan sama, jika tidak perangkat militer, bangunan pasti manusia. Hal – hal inilah yang mungkin membuat beberapa peneliti / pengembang tidak setuju penggunaan robot dalam militer.
Robot – robot ataupun instrumen militer yang dibuat tentunya lebih efektif dibandingkan tentara manusia, mereka tidak ragu dalam menembakan peluru, rudal maupun misil ke arah orang dewasa maupun anak – anak. Tidak ada perasaan yang dilibatkan hanya perintah dan kode – kode instruksi yang dijalankan dalam bentuk bit – bit oleh mikroprosessor, 100% efektif.
Manusia pun juga sudah menyadari akan ketakutan tentang kehadiran robot – robot dalam militer. Hal ini dapat dilihat dari film Terminator yang diproduksi oleh Hollywood. Dimana robot – robot militer lepas kontrol
Penggunaan embedded system dan artificial intellegence memberikan kemudahan pada manusia di berbagai bidang. Implementasi dari embedded system dan artificial intellegence adalah teknologi robotika. Fungsi robot sangat membantu baik di bidang industri hingga medis. Robot juga memiliki kemampuan menggantikan manusia dalam mengerjakan pekerjaan yang berbahaya seperti peran astronot di stasiun antariksa.
Polemik penggunaan teknologi robot dalam bidang militer telah menjadi perdebatan para ahli. Baik itu keuntungan yang dapat diperoleh serta kerugian yang akan dirasakan. Setiap teknologi yang diciptakan manusia dapat menjadi pedang bermata dua yang tiba-tiba dapat menyerang siapapun termasuk tuannya sendiri. Hal ini telah diketahui semenjak dinamit hingga bom atom ditemukan.
Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana jika robot tersebut menyerang target yang tidak seharusnya dan melanggar hukum perang? Akademisi Amerika Serikat Patrick Lin yang bekerja untuk membuat etika robot untuk militer, mengungkapkan, robot dapat diprogram untuk mengikuti standar tertentu.
Meski demikian, dia tetap mempertanyakan, "Benarkah kita dapat melakukan itu dengan komputer kita?" ujarnya. Saat ini, Amerika Serikat (AS) telah menggunakan robot-robot canggih di pertempuran, baik itu di Irak maupun di Afghanistan.
Pentagon telah membuat kendaraan tanpa pengemudi yang disebut EATR. Robot mobil itu dapat mengisi ulang bahan bakar sendiri dengan materi organik ketika berjalan jarak jauh. Penemu EATR, Dr Robert Finkelstein dari Robotic Technology Inc, mengungkapkan, penemuannya membutuhkan bahan-bahan organik sebagai bahan bakar dan lebih vegetarian dibandingkan manusia.
"Robot hanya dapat melakukan apa yang diprogramkan, dan dia memiliki fitur-fitur tertentu," tambahnya. Menurut Finkelstein, robot mampu menghindari kesalahan yang dilakukan prajurit manusia. Dia menuturkan, robot diprogram dengan secukupnya dan dibuat agar sedikit melakukan kesalahan seperti membunuh warga tak bersalah, dan kelompok bukan musuh.
"Robot tidak memiliki ikatan emosional, mereka tidak memiliki rasa takut, mereka dapat bertindak dalam beberapa situasi," ungkapnya. Namun, pihak yang lebih skeptis seperti Profesor Noel Sharkey, pendiri Komite Internasional untuk Kontrol Robot Bersenjata, mengatakan manusia lebih akuntabel sedangkan mesin tidak.
"Anda dapat melatih robot seperti apa pun yang Anda inginkan, dan menjadikannya mematuhi semua aturan di dunia. Tapi, jika apa yang diprogramkan tidak benar, jadi ya begitulah," paparnya.
Dengan revolusi militer, Christopher Coker dari the London School of Economics, menjelaskan, komputer tidak mampu menstimulasikan "etos pahlawan", pemikiran, dan etika tentara profesional. Selama ini, revolusi militer robot telah diterapkan dalam pesawat udara seperti pesawat tanpa awak milik AS di Afghanistan.
Sedangkan penerapan robot di darat, masih terbatas. Sementara itu, Yoshiyuki Sankai, pakar robot ternama dari Jepang, menciptakan HAL (hybrid assistive limb), yaitu pakaian robotik yang telah dikembangkan untuk membantu gerakan dan menambah tenaga orang yang memakainya.
Sankai menerima undangan resmi dari Departemen Pertahanan Jepang untuk mempresentasikan "pakaian robot" yang dibuatnya. Sedanngkan Brian Hart yang kehilangan putranya, John Hart, yang gugur dalam perang Irak pada Oktober 2003, membuat Brian sukses menciptakan robot pendeteksi bom.
Dia pun membuat sebuah kendaraan robot yang dirancang khusus untuk menjinakkan bom. Robot yang dinamakan LandShark (Hiu Darat) itu dilengkapi sejumlah sensor canggih yang dapat mendeteksi dan menonaktifkan bom
Seperti yang kita tahu bahwa dewasa ini memang Kemajuan kecerdasaan buatan meningkat dengan sangat mengagumkan. Dimulai dari lahirnya Deep Blue yang diciptakan oleh IBM, yang mampu mengalahkan pecatur legendaris Kaskarov. Serta proyek ambisius negara Jepang untuk menciptakan komputer generasi ke 5 yang berbasis Artificial Intellegence.
Tapi tahukah kamu bahwa pengembangan - pengembangan robot semacam ini telah ada sejak zaman dahulu, Ternyata bentuk robot atau makhluk yang seperti robot telah ada sebelum jaman masehi. Kita mungkin telah mengenal beberapa legenda masyarakat eropa tentang Golem (Makhluk seperti manusia yang terbentuk dari batu atau tanah liat) atau para pembantu Hephaestus yang terbuat dari mesin – mesin dari Yunani. Tapi tidak hanya berupa imajinasi saja, Ctesibius dari Alexandria (250 SM) telah berhasil membuat organ (alat musik) otomatis.
Lalu sarjawan muslim, Al – Jazari (1136 – 1206 ) yang membuat sebuah rancangan tentang robot yang dapat diprogram. Robot menurut etimologinya berarti pekerja, yang bekerja keras, atau budak. Robot dapat diartikan sebagai mechanical creature (makhluk yang berbentuk seperti mesin). Keinginan manusia untuk menciptakan sebuah makhluk cerdas yang dapat bekerja tanpa protes dan patuh telah dilakukan sejak jaman renessaince hingga kini. Mulai dari sekedar rancangan dan impian lalu kini telah menjadi kenyataan
Demikian pula kemajuan embedded system khususnya dibidang robotika. Kelahiran P3 yang menjadi cikal bakal ASIMO sebagai robot humanoid yang telah diterapkan untuk membantu manusia, telah menunjukkan betapa dahsyatnya perkembangan teknologi embedded khususnya bidang robotika.
Perkembangan robot saat ini ternyata dipandang positif oleh departemen militer Amerika Serikat. Dimulai dari proyek pesawat tanpa awak yang digunakan pada perang teluk II dan hingga robot yang mampu mendeteksi arah tembakan sniper. Pengembangan robot yang mampu menggantikan tentara manusia di medan perang tidak mustahil telah dilakukan oleh negara – negara maju. Makalah ini berfokus kepada kehadiran robot militer di masa depan, dimana di satu pihak kehadiran robot ini oleh pengembangnya dipandang dapat menurunkan angka kematian prajurit. Di pihak yang lain, keberadaannya hanya memperburuk keadaan saat ini.
Kemajuan perangkat keras khususnya mikroprosessor dan mikrokontroller turut serta mengambil bagian dalam teknologi robot. Mikroprosessor yang menjadi bagian terpenting dalam teknologi robot, mengakibatkan robot tidak lagi hanya dapat berjalan, tetapi dapat tersenyum, tertawa, sedih dengan melihat keadaan sekitar seperti Kismet robot buatan Dr Cynthia. Penemuan ini lalu mengakibatkan pembuatan robot tidak hanya berkonsentrasi pada gerak, jumlah kaki dan tugas kerja saja. Keinginan untuk dapat membuat robot yang memiliki perasaan seperti layaknya manusia dan kecerdasaan seperti manusia pun mulai dilakukan. Mimpi ini mungkin telah diwakili oleh film – film animasi Jepang seperti Astro Boy atau Doraemon.
Jepang merupakan negara yang menghabiskan dana terbesar dalam riset dan proyek penelitian robot. Hal ini dapat dilihat dari implementasi robot yang dilakukan oleh negara ini. Mulai dari robot pelayan yang menyajikan makanan hingga robot yang mampu menggantikan seorang presenter televisi.
Sisi ambisius manusia dalam pengembangan robot ternyata tidak hanya berhenti pada bidang pelayanan umum. Keinginan membuat sebuah alat perang yang tidak mungkin menolak perintah dan tidak ragu dalam mengerjakan misi tentunya menjadi impian para petinggi militer di negara manapun juga.
Prajurit manusia dianggap memiliki banyak sekali kelemahan, seperti moral yang kadang naik dan turun. Keterlibatan perasaan saat menjalankan misi dan kemampuan untuk membangkang dari perintah. Hal ini juga tidak terlepas dari kurangnya minat para pemuda di negara maju untuk menjadi tentara. Sehingga wajib militer pun harus dikeluarkan. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah ketika seorang prajurit gugur di medan perang, kepada keluarga yang ditinggalkan.
Hal – hal seperti diatas lah yang mengakibatkan sebuah robot yang dapat berperang dan menggantikan peran tentara di medan perang sangat dibutuhkan.
Bila dilihat dari sisi ekonomis tentunya ini lebih murah dibanding biaya yang harus dikeluarkan untuk mentraining seorang manusia untuk dapat menjadi tentara yang baik.
Dari sisi delivery, robot tentara lebih unggul dari prajurit manusia. Robot tentara dapat diproduksi masal. Bisa jadi sebuah pabrik dapat menghasilkan puluhan ribu robot dalam sebulannya, dibandingkan harus mencari dan merekut pemuda yang berusia 18 – 25 tahun.
Banyak sekali keuntungan yang bisa diperoleh oleh sebuah negara jika mampu mengembangkan robot tentara ini. Tidak ada lagi prajurit yang harus dikobarkan, dan tidak ada lagi keluarga prajurit yang harus menangis karena sanak keluarganya tewas di medan pertempuran.
Amerika sebagai negara adikuasa tentunya sudah memikirkan masak – masak tentang robot – robot yang mampu berperang. Kehadiran pesawat tempur tanpa awak dalam perang teluk ke II sudah menunjukkan keseriusan militer Amerika dalam pengembangan embedded system, kecerdasaan buatan dan teknologi robot di bidang militer.
Seperti yang telah kita ketahui, internet mulanya adalah proyek Departement of Defense Amerika Serikat untuk membuat sebuah sistem komunikasi yang tidak akan mudah hancur karena serangan fisik. Teknologi wireless seperti handphone yang kini telah menjadi kebutuhan sehari – hari komunikasi di Indonesia, juga tidak terlepas dari kebutuhan militer yang berkeinginan agar setiap prajurit dapat berkomunikasi dengan pusat komando dengan mudah. Atau di Indonesia sendiri, penggunaan robot oleh tim Gegana dalam menjinakkan bom juga termasuk contoh implementasinya.
Israel sendiri sebagai negara yang memiliki hubungan tidak baik dengan para negara tetangganya juga dikabarkan telah mengembangkan tank – tank wireless yang dapat dikendalikan dari jarak jauh. Tentunya hal ini sangat luar biasa bila dilihat dari sisi teknologi embedded. Dapat saja terjadi di masa depan dimana setiap instrumen – instrumen militer dapat digerakkan dari jarak ribuan kilometer.
Jika tadi kehadiran robot – robot militer dilihat dari sudut pandang yang menguntungkan, tetap saja robot – robot militer tersebut tetap memiliki tujuan yang sama dengan tentara manusia yaitu sebagai alat yang digunakan untuk menghancurkan musuh. Tetap saja sasaran – sasaran yang dihancurkan sama, jika tidak perangkat militer, bangunan pasti manusia. Hal – hal inilah yang mungkin membuat beberapa peneliti / pengembang tidak setuju penggunaan robot dalam militer.
Robot – robot ataupun instrumen militer yang dibuat tentunya lebih efektif dibandingkan tentara manusia, mereka tidak ragu dalam menembakan peluru, rudal maupun misil ke arah orang dewasa maupun anak – anak. Tidak ada perasaan yang dilibatkan hanya perintah dan kode – kode instruksi yang dijalankan dalam bentuk bit – bit oleh mikroprosessor, 100% efektif.
Manusia pun juga sudah menyadari akan ketakutan tentang kehadiran robot – robot dalam militer. Hal ini dapat dilihat dari film Terminator yang diproduksi oleh Hollywood. Dimana robot – robot militer lepas kontrol
Penggunaan embedded system dan artificial intellegence memberikan kemudahan pada manusia di berbagai bidang. Implementasi dari embedded system dan artificial intellegence adalah teknologi robotika. Fungsi robot sangat membantu baik di bidang industri hingga medis. Robot juga memiliki kemampuan menggantikan manusia dalam mengerjakan pekerjaan yang berbahaya seperti peran astronot di stasiun antariksa.
Polemik penggunaan teknologi robot dalam bidang militer telah menjadi perdebatan para ahli. Baik itu keuntungan yang dapat diperoleh serta kerugian yang akan dirasakan. Setiap teknologi yang diciptakan manusia dapat menjadi pedang bermata dua yang tiba-tiba dapat menyerang siapapun termasuk tuannya sendiri. Hal ini telah diketahui semenjak dinamit hingga bom atom ditemukan.
Dari berbagai sumber www.suaramedia.com
SIDNEY - Sebuah survei di Great Barrier Reef yang akan diluncurkan bisa memberikan publik kesempatan untuk pergi untuk melakukan penyelaman virtual di wilayah tersebut.
Diwartakan Orange, Minggu (26/2/2012), Catlin Seaview Survey tersebut bertujuan untuk mempelajari terumbu karang dan satwa liar dari permukaan laut sampai 100 meter di bawah permukaan, dalam upaya mengumpulkan data yang diharapkan akan meningkatkan pemahaman ilmiah mengenai dampak perubahan iklim terhadap lautan.
Survei tersebut akan menangkap ribuan panorama 360 derajat dengan kamera khusus, dan memungkinkan semua orang di seluruh dunia untuk bisa memilih lokasi dan melihat pemandangan bawah laut sepanjang karang di lepas pantai Australia.
Sekitar 50.000 panorama dari survei ini akan dapat diakses di Google Earth dan Google Maps, sementara proyek ini juga akan memiliki saluran YouTube sehingga orang bisa menonton siaran streaming langsung dari tim ekspedisi dari bawah laut.
Penelitian ini juga akan melacak 50 hiu harimau, penyu hijau dan pari manta dengan fitur satelit tagging yang akan memantau lokasi mereka, suhu dan kedalaman. Informasi itu akan dibandingkan dengan data laut untuk memperoleh pemahaman tentang perilaku dan migrasi hewan laut.
Profesor Ove Hoegh-Guldberg dari University of Queensland, yang menjadi ilmuwan kepala untuk proyek tersebut, mengatakan: "Catlin Seaview Survey terdiri dari serangkaian penelitian yang akan mengungkapkan satu perbatasan terakhir di Bumi, yaitu lautan, kepada publik."
"Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita memiliki teknologi yang tersedia untuk menyiarkan temuan dan ekspedisi melalui Google. Jutaan orang akan dapat mengalami kehidupan, ilmu pengetahuan dan sihir yang ada di bawah permukaan laut kita," tambahnya.
Diwartakan Orange, Minggu (26/2/2012), Catlin Seaview Survey tersebut bertujuan untuk mempelajari terumbu karang dan satwa liar dari permukaan laut sampai 100 meter di bawah permukaan, dalam upaya mengumpulkan data yang diharapkan akan meningkatkan pemahaman ilmiah mengenai dampak perubahan iklim terhadap lautan.
Survei tersebut akan menangkap ribuan panorama 360 derajat dengan kamera khusus, dan memungkinkan semua orang di seluruh dunia untuk bisa memilih lokasi dan melihat pemandangan bawah laut sepanjang karang di lepas pantai Australia.
Sekitar 50.000 panorama dari survei ini akan dapat diakses di Google Earth dan Google Maps, sementara proyek ini juga akan memiliki saluran YouTube sehingga orang bisa menonton siaran streaming langsung dari tim ekspedisi dari bawah laut.
Penelitian ini juga akan melacak 50 hiu harimau, penyu hijau dan pari manta dengan fitur satelit tagging yang akan memantau lokasi mereka, suhu dan kedalaman. Informasi itu akan dibandingkan dengan data laut untuk memperoleh pemahaman tentang perilaku dan migrasi hewan laut.
Profesor Ove Hoegh-Guldberg dari University of Queensland, yang menjadi ilmuwan kepala untuk proyek tersebut, mengatakan: "Catlin Seaview Survey terdiri dari serangkaian penelitian yang akan mengungkapkan satu perbatasan terakhir di Bumi, yaitu lautan, kepada publik."
"Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita memiliki teknologi yang tersedia untuk menyiarkan temuan dan ekspedisi melalui Google. Jutaan orang akan dapat mengalami kehidupan, ilmu pengetahuan dan sihir yang ada di bawah permukaan laut kita," tambahnya.
Sumber : Okezone.com
Dalam
sepuluh tahun belakangan internet berkembang menjadi “sarang jihadis”,
demikian tercantum dalam laporan Dinas Intelijen dan Keamanan Belanda
AIVD, seperti dikutip RNW, Rabu (16/02/2012). Menurut AIVD, di
seluruh dunia sekitar 25 ribu jihadis aktif di forum-forum Islam, yang
sulit sekali ditemukan di internet.
AIVD memperingatkan, lewat internet, semakin banyak orang di semakin banyak negara berhubungan dengan jihadis dari misalnya Afghanistan dan Yaman. Mereka menjadi ancaman nyata bagi Barat.
Menurutnya, forum-forum yang disebutnya radikal tidak bisa dilacak mesin pencari seperti Google. Hanya 0,2 persen “kelihatan” di internet. Situs web jihadis sulit sekali ditemukan.
Nama Palsu Situs Sementara itu, pakar terorisme Glenn Schoen mengatakan, situs-situs jihad sangat sulit dilacak dan hanya bisa diakses dengan kode-kode tertentu.
“Anda harus membuka alamat http tertentu, chatroom tertentu, dengan nama palsu tertentu atau pada waktu tertentu. Banyak sekali dipakai kode yang dirancang teroris di luar negeri. Jadi Anda belum pernah bertemu orang-orang tersebut.”
Kassim Mohammed, laki-laki Kenya yang pakar jaringan teror Afrika mengatakan, Al-Shabaab salah satu organisasi Muslim yang melalui internet berusaha merekrut orang, terutama pemuda Amerika dan Inggris, kata. Juga hubungan antara al-Shabaab dan al-Qaida berlangsung lewat internet.
Al-Shabaab tampaknya belum begitu populer di Belanda. Menurut Kassim Mohammed, hingga sekarang belum ada orang Somalia yang “mendaftarkan diri” untuk ikut perang suci.
Jumlah warga Muslim Belanda yang aktif di forum-forum radikal sangat terbatas, kata AIVD. Hanya segelintir orang saja yang mewujudkan apa yang dikatakan.
“Jika melihat berapa orang di Belanda yang berdiskusi atau bertukar informasi di forum, dan setelah itu benar-benar turun ke lapangan untuk bergabung dengan radikal di Somalia atau Afghanistan, maka jumlah mereka hanya sedikit saja,” kata Edwin Bakker.
Bakker memperkirakan dinas intel akan berinvestasi lebih banyak sehingga bisa menyusup masuk seluk beluk internet. “Itu akan bisa mempersulit kegiatan teroris. Saya bisa membayangkan, jika Anda bertukar informasi dengan orang-orang yang tidak dikenal, maka Anda pasti ragu karena ada kemungkinan orang tersebut adalah orang AIVD.”*
Sumber : Hidayatullah.com
AIVD memperingatkan, lewat internet, semakin banyak orang di semakin banyak negara berhubungan dengan jihadis dari misalnya Afghanistan dan Yaman. Mereka menjadi ancaman nyata bagi Barat.
Menurutnya, forum-forum yang disebutnya radikal tidak bisa dilacak mesin pencari seperti Google. Hanya 0,2 persen “kelihatan” di internet. Situs web jihadis sulit sekali ditemukan.
Nama Palsu Situs Sementara itu, pakar terorisme Glenn Schoen mengatakan, situs-situs jihad sangat sulit dilacak dan hanya bisa diakses dengan kode-kode tertentu.
“Anda harus membuka alamat http tertentu, chatroom tertentu, dengan nama palsu tertentu atau pada waktu tertentu. Banyak sekali dipakai kode yang dirancang teroris di luar negeri. Jadi Anda belum pernah bertemu orang-orang tersebut.”
Kassim Mohammed, laki-laki Kenya yang pakar jaringan teror Afrika mengatakan, Al-Shabaab salah satu organisasi Muslim yang melalui internet berusaha merekrut orang, terutama pemuda Amerika dan Inggris, kata. Juga hubungan antara al-Shabaab dan al-Qaida berlangsung lewat internet.
Al-Shabaab tampaknya belum begitu populer di Belanda. Menurut Kassim Mohammed, hingga sekarang belum ada orang Somalia yang “mendaftarkan diri” untuk ikut perang suci.
Jumlah warga Muslim Belanda yang aktif di forum-forum radikal sangat terbatas, kata AIVD. Hanya segelintir orang saja yang mewujudkan apa yang dikatakan.
“Jika melihat berapa orang di Belanda yang berdiskusi atau bertukar informasi di forum, dan setelah itu benar-benar turun ke lapangan untuk bergabung dengan radikal di Somalia atau Afghanistan, maka jumlah mereka hanya sedikit saja,” kata Edwin Bakker.
Bakker memperkirakan dinas intel akan berinvestasi lebih banyak sehingga bisa menyusup masuk seluk beluk internet. “Itu akan bisa mempersulit kegiatan teroris. Saya bisa membayangkan, jika Anda bertukar informasi dengan orang-orang yang tidak dikenal, maka Anda pasti ragu karena ada kemungkinan orang tersebut adalah orang AIVD.”*
Sumber : Hidayatullah.com




