• Beranda
  • Daftar Isi
    • Tausiyah
    • Informasi
    • Berita
    • Artikel
    • Tanya Jawab
    • Lowongan Kerja
    • Jual Beli
  • Cara Daftar
  • Donasi
  • SMS Gratis
  • Berbagi
  • Download
  • Forum Diskusi
  • Pesan Layanan Umat
You are here : Home »
Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam.“[1].

Hadits yang mulia ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan Muharram, bahkan puasa di bulan ini lebih utama dibandingkan bulan-bulan lainnya, setelah bulan Ramadhan[2].

Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:
- Puasa yang paling utama dilakukan pada bulan Muharram adalah puasa ‘Aasyuura’ (puasa pada tanggal 10 Muharram), karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya dan memerintahkan para sahabat radhiyallahu ‘anhum untuk melakukannya[3], dan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang keutamaannya beliau bersabda,
يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“Puasa ini menggugurkan (dosa-dosa) di tahun yang lalu“[4].
- Lebih utama lagi jika puasa tanggal 10 Muharram digandengankan dengan puasa tanggal 9 Muharram, dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nashrani, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disampaikan kepada beliau bahwa tanggal 10 Muharram adalah hari yang diagungkan orang-orang Yahudi dan Nashrani, maka beliau bersabda,
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
“Kalau aku masih hidup tahun depan, maka sungguh aku akan berpuasa pada tanggal 9 Muharram (bersama 10 Muharram).” [5]
- Adapun hadits,
صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً
“Berpuasalah pada hari ‘Aasyuura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“[6], maka hadits ini lemah sanadnya dan tidak bisa dijadikan sebagai sandaran dianjurkannya berpuasa pada tanggal 11 Muharram[7].
- Sebagian ulama ada yang berpendapat di-makruh-kannya (tidak disukainya) berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja, karena menyerupai orang-orang Yahudi, tapi ulama lain membolehkannya meskipun pahalanya tidak sesempurna jika digandengkan dengan puasa sehari sebelumnya[8].
- Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan puasa tanggal 10 Muharram adalah karena pada hari itulah Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa álaihis salam dan umatnya, serta menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya, maka Nabi  Musa ‘alaihis salam pun berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada-Nya, dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu karena alasan ini, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ
“Kita lebih berhak (untuk mengikuti) Nabi Musa ‘alaihis salam daripada mereka“[9]. Kemudian untuk menyelisihi perbuatan orang-orang Yahudi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram[10].
- Hadits ini juga menunjukkan bahwa shalat malam adalah shalat yang paling besar keutamaannya setelah shalat wajib yang lima waktu[11].
***
Penulis: Ustadz Abdullah Taslim Al Buthoni, M.A.


[1] HSR Muslim (no. 1163).
[2] Lihat keterangan Syeikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam Syarhu Riyadhis Shalihin (3/341).
[3] Dalam HSR al-Bukhari (no. 1900) dan Muslim (1130).
[4] HSR Muslim (no. 1162).
[5] HSR Muslim (no. 1134).
[6] HR Ahmad (1/241), al-Baihaqi (no. 8189) dll, dalam sanadnya ada perawi yang bernama Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila, dan dia  sangat buruk hafalannya (lihat Taqriibut Tahdziib hal. 493). Oleh karena itu syaikh al-Albani menyatakan hadits ini lemah dalam Dha’iful Jaami’ (no. 3506).
[7] Lihat kitab Bahjatun Nazhirin (2/385).
[8] Lihat keterangan Syeikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam as-Syarhul Mumti’ (3/101-102).
[9] Semua ini disebutkan dalam HSR al-Bukhari (3216) dan Muslim (1130).
[10] Lihat keterangan syaikh Muhammad al-Utsaimin dalam Syarhu Riyadhis Shalihin (3/412).
[11] Lihat kitab Bahjatun Nazhirin (2/329).

Dari artikel Keutamaan Puasa di Bulan Muharram


[1] HSR Muslim (no. 1163).
[2] Lihat keterangan Syeikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam Syarhu Riyadhis Shalihin (3/341).
[3] Dalam HSR al-Bukhari (no. 1900) dan Muslim (1130).
[4] HSR Muslim (no. 1162).
[5] HSR Muslim (no. 1134).
[6] HR Ahmad (1/241), al-Baihaqi (no. 8189) dll, dalam sanadnya ada perawi yang bernama Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila, dan dia  sangat buruk hafalannya (lihat Taqriibut Tahdziib hal. 493). Oleh karena itu syaikh al-Albani menyatakan hadits ini lemah dalam Dha’iful Jaami’ (no. 3506).
[7] Lihat kitab Bahjatun Nazhirin (2/385).
[8] Lihat keterangan Syeikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam as-Syarhul Mumti’ (3/101-102).
[9] Semua ini disebutkan dalam HSR al-Bukhari (3216) dan Muslim (1130).
[10] Lihat keterangan syaikh Muhammad al-Utsaimin dalam Syarhu Riyadhis Shalihin (3/412).
[11] Lihat kitab Bahjatun Nazhirin (2/329).

Dari artikel Keutamaan Puasa di Bulan Muharram — Muslim.Or.Id by null
Seandainya aku mengetahui bahwa ada diantara amalanku yang diterima oleh Allah meskipun hanya sebesar biji sawi, maka itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Subhaanahu Wata'ala berfirman, 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.' (al-Maaidah : 27)
(Fudhalah bin 'Ubaid)
Assalamu ‘Alaikum … , afwan Ust. Ana mau tanya tentang keutamaan shaum pada 1,2, dan 3 Rajab. Bagaimana matan dan sanad hadits tersebut? Katanya pahalanya sama dengan puasa selama 900 tahun.
Syukran Ust atas jawabannya.Semoga Allah selalu memberkahi dan memberi kesehatan kepada Ust. Amin. (dari 081213141xxx)
Jawaban (Farid Nu’man Hasan):
Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh
Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala aalihi wa ashahabihi wa man waalah wa ba’d:
Bulan Rajab adalah salah satu bulan mulia, yang telah Allah Ta’ala sebutkan sebagai asyhurul hurum (bulan-bulan haram). Maksudnya, saat itu manusia dilarang (diharamkan) untuk berperang, kecuali dalam keadaan membela diri dan terdesak.[1]
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah , dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram …” (QS. Al Maidah (95): 2)
Ayat mulia ini menerangkan secara khusus keutamaan bulan-bulan haram, yang tidak dimiliki oleh bulan lainnya. Bulan yang termasuk Asyhurul hurum (bulan-bulan haram) adalah dzul qa’dah, dzul hijjah, rajab, dan muharam. (Sunan At Tirmidzi No. 1512)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
السنة اثنا عشر شهراً، منها أربعةٌ حرمٌ: ثلاثٌ متوالياتٌ ذو القعدة، وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان”.
“Setahun ada 12 bulan, di antaranya terdapat 4 bulan haram: tiga yang awal adalah Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Muharam. Sedangkan Rajab yang penuh kemuliaan antara dua jumadil dan sya’ban.” (HR. Bukhari No. 3025)
Dinamakan Rajab karena itu adalah bulan untuk yarjubu, yakni Ya’zhumu (mengagungkan), sebagaimana dikatakan Al Ashmu’i, Al Mufadhdhal, dan Al Farra’. (Imam Ibnu Rajab, Lathaif Al Ma’arif, Hal. 117. Mawqi’ Ruh Al Islam)
Banyak manusia meyakini bulan Rajab sebagai bulan untuk memperbanyak ibadah, seperti shalat, puasa, dan menyembelih hewan untuk disedekahkan. Tetapi, kebiasaan ini nampaknya tidak didukung oleh sumber yang shahih. Para ulama hadits telah melakukan penelitian mendalam, bahwa tidak satu pun riwayat shahih yang menyebutkan keutamaan shalat khusus, puasa, dan ibadah lainnya pada bulan Rajab, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi. Benar, bulan Rajab adalah bulan yang agung dan mulia, tetapi kita tidak mendapatkan hadits shahih tentang rincian amalan khusus pada bulan Rajab. Wallahu A’lam
Sebagai contoh:
“Sesungguhnya di surga ada sungai bernama Rajab, airnya lebih putih dari susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa yang berpuasa Rajab satu hari saja, maka Allah akan memberikannya minum dari sungai itu.” (Status hadits: BATIL. Lihat As Silsilah Adh Dhaifah No. 1898)
“Ada lima malam yang doa tidak akan ditolak: awal malam pada bulan Rajab, malam nishfu sya’ban, malam Jumat, malam idul fitri, dan malam hari raya qurban.” (Status hadits: Maudhu’ (palsu). As Silsilah Adh Dhaifah No. 1452)
“Rajab adalah bulannya Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.” (Status hadits: Dhaif (lemah). Lihat As Silsilah Adh Dhaifah No. 4400)
“Dinamakan Rajab karena di dalamnya banyak kebaikan yang diagungkan (yatarajjaba) bagi Sya’ban dan Ramadhan.” (Status hadits: Maudhu’ (palsu). As Silsilah Adh Dhaifah No. 3708)
Dan masih banyak lagi yang lainnya, seperti shalat raghaib (12 rakaat) pada hari kamis ba’da maghrib di bulan Rajab (Ini ada dalam kitab Ihya Ulumuddin-nya Imam Al Ghazali. Segenap ulama seperti Imam An Nawawi mengatakan ini adalah bid’ah yang buruk dan munkar, juga Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Nuhas, dan lainnya mengatakan hal serupa).
Walau demikian, tidak berarti kelemahan semua riwayat ini menunjukkan larangan ibadah-ibadah secara global. Melakukan puasa, sedekah, memotong hewan untuk sedekah, dan amal shalih lainnya adalah perbuatan mulia, kapan pun dilaksanakannya termasuk bulan Rajab, kecuali puasa pada hari-hari terlarang puasa.
Tidak mengapa puasa pada bulan Rajab, seperti puasa senin kamis dan ayyamul bidh (tanggal 13,14,15 bulan hijriah), sebab ini semua memiliki perintah secara umum dalam syariat yang dilakukan pada bulan apa saja. Tidak mengapa pula sekedar ingin puasa mutlak tanggal 1,2, dan 3 Rajab dengan tanpa embel-embel keyakinan yang tanpa dasar. Tidak mengapa sekedar memotong hewan untuk disedekahkan, yang keliru adalah meyakini dan MENGKHUSUSKAN ibadah-ibadah ini dengan fadhilah tertentu yang hanya bisa diraih di bulan Rajab, dan tidak pada bulan lainnya. Jika seperti ini, maka membutuhkan dalil shahih yang khusus, baik Al Quran atau As Sunnah. Jika tidak ada maka hal itu menjadi ibadah muhdats (baru) dan mengada-ngada.
Sementara itu, mengkhususkan menyembelih hewan (istilahnya Al ‘Atirah) pada bulan Rajab, telah terjadi perbedaan pendapat di dalam Islam. Imam Ibnu Sirin mengatakan itu sunah, dan ini juga pendapat penduduk Bashrah, juga Imam Ahmad bin Hambal sebagaimana yang dikutip oleh Hambal. Tetapi mayoritas ulama mengatakan bahwa hal itu adalah kebiasaan jahiliyah yang telah dihapuskan oleh Islam. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits shahih: “Tidak ada Al Fara’ dan Al ‘Atirah.” (Imam Ibnu Rajab, Lathaif Al Ma’arif Hal. 117)
Namun, jika sekedar ingin menyembelih hewan pada bulan Rajab, tanpa mengkhususkan dengan fadhilah tertentu pada bulan Rajab, tidak mengapa dilakukan. Karena Imam An Nasa’i meriwayatkan, bahwa para sahabat berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, dahulu ketika jahiliyah kami biasa menyembelih pada bulan Rajab?” Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
اذبحوا لله في أي شهر كان
“Menyembelihlah karena Allah, pada bulan apa saja.” (HR. An Nasa’i, hadits ini shahih. Lihat Shahih Al Jami’ Ash Shaghir wa Ziyadatuhu, 1/208)
Benarkah Isra Mi’raj Terjadi Tanggal 27 Rajab?
Ada pun tentang Isra’ Mi’raj, benarkah peristiwa ini terjadi pada bulan Rajab? Atau tepatnya 27 Rajab? Jawab: Wallahu A’lam. Sebab, tidak ada kesepakatan para ulama hadits dan para sejarawan muslim tentang kapan peristiwa ini terjadi, ada yang menyebutnya Rajab, dikatakan Rabiul Akhir, dan dikatakan pula Ramadhan atau Syawal. (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 7/242-243)
Imam Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, bahwa banyak ulama yang melemahkan pendapat bahwa peristiwa Isra terjadi pada bulan Rajab, sedangkan Ibrahim Al Harbi dan lainnya mengatakan itu terjadi pada Rabi’ul Awal. (Ibid Hal. 95).
Beliau juga berkata:
و قد روي: أنه في شهر رجب حوادث عظيمة ولم يصح شيء من ذلك فروي: أن النبي صلى الله عليه وسلم ولد في أول ليلة منه وأنه بعث في السابع والعشرين منه وقيل: في الخامس والعشرين ولا يصح شيء من ذلك وروى بإسناد لا يصح عن القاسم بن محمد: أن الإسراء بالنبي صلى الله عليه وسلم كان في سابع وعشرين من رجب وانكر ذلك إبراهيم الحربي وغيره
“Telah diriwayatkan bahwa pada bulan Rajab banyak terjadi peristiwa agung dan itu tidak ada yang shahih satu pun. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dilahirkan pada awal malam bulan itu, dan dia diutus pada malam 27-nya, ada juga yang mengatakan pada malam ke-25, ini pun tak ada yang shahih. Diriwayatkan pula dengan sanad yang tidak shahih dari Al Qasim bin Muhammad bahwa peristiwa Isra-nya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terjadi pada malam ke-27 Rajab, dan ini diingkari oleh Ibrahim Al Harbi dan lainnya.” (Lathaif Al Ma’arif Hal. 121. Mawqi’ Ruh Al Islam)
Sementara, Imam Ibnu Hajar mengutip dari Ibnu Dihyah, bahwa: “Hal itu adalah dusta.” (Tabyinul ‘Ajab hal. 6). Imam Ibnu Taimiyah juga menyatakan peristiwa Isra’ Mi’raj tidak diketahui secara pasti, baik tanggal, bulan, dan semua riwayat tentang ini terputus dan berbeda-beda.
Sekian.
Wallahu A’lam
Farid Nu’man Hasan
—
[1] Sebagian imam ahli tafsir menyebutkan bahwa, hukum berperang pada bulan-bulan haram adalah dibolehkan, sebab ayat ini telah mansukh (direvisi) secara hukum oleh ayat: “Perangilah orang-orang musyrik di mana saja kalian menjumpainya ….”. Sementara, ahli tafsir lainnya mengatakan, bahwa ayat ini tidak mansukh, sehingga larangan berperang pada bulan itu tetap berlaku kecuali darurat. Dan, Imam Ibnu Jarir lebih menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa ayat ini mansukh (direvisi) hukumnya. (Jami’ Al Bayan, 9/478-479. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah) Imam Ibnu Rajab mengatakan kebolehan berperang pada bulan-bulan haram adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama), pelaranagn hanya terjadi pada awal-awal Islam. (Lathaif Al Ma’arif Hal. 116. Mawqi’ Ruh Al Islam)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At Taubah: 36)
Yang dimaksud dengan empat bulan haram pada ayat ini adalah:
1. Bulan Dzul Qa’dah
2. Bulan Dzul Hijjah
3. Bulan Muharam
4. Bulan Rajab
Hadits Nabi menyebutkan 4 bulan ini dengan istilah tsalatsatun mutawaliyat (tiga bulan berturut-turut) dan bulan Rajab Mudhar.[1]
Sebagian ulama’ mengistilahkannya: tsalatsatun sard (tiga bulan berturut-turut) wa wahidun fard (satu bulan sendirian, yaitu bulan Rajab.
Empat bulan ini disebut haram karena pada empat bulan ini diharamkan berperang,[2] dan ini adalah ajaran yang telah ada semenjak Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il – ‘Alaihimas Salam -.
Dan hal ini masih terus dipelihara oleh bangsa Arab sampai masa diutusnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjadi seorang nabi dan rasul.
Di buku-buku tafsir dan sejarah diceritakan bahwa karena ketaatan bangsa Arab terhadap ajaran ini, sampai-sampai, seandainya ada seseorang yang bertemu dengan pembunuh orang tuanya, atau saudaranya atau sanak familinya pada bulan-bulan ini, maka pertemuan ini tidak sampai menggerakkannya untuk melakukan tindakan balas dendam, padahal orang Arab pada zaman itu terkenal sangat pendendam.
Taujih Rabbani Terkait 4 Bulan Haram
Ada tiga taujih Rabbani terkait dengan empat bulan haram ini, yaitu:
  1. Fala tazhlimu fihinna anfusakum. Singkatnya, pada empat bulan ini, orang-orang yang beriman dilarang menzhalimi diri sendiri.
  2. Waqatilul musyrikina kaffatan kama yuqatilunakmu kaffah. Maksudnya, kaum muslimin tidak boleh kehilangan kewaspadaannya dalam empat bulan ini, sebab bisa saja ada pihak-pihak yang tidak mengindahkan larangan berperang ini, lalu mereka menyerang kaum muslimin. Jika hal ini terjadi, kaum muslimin dibenarkan melakukan peperangan untuk membela diri.
  3. Wa’lamu annallaha ma’al muttaqin. Maksudnya adalah bahwa kaum muslimin hendaklah terus menjaga dan meningkatkan ketaqwaannya agar tetap mendapatkan ma’iyyatullah (kebersamaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala).
Maksud Menzhalimi Diri Sendiri
Yang dimaksud dengan menzhalimi diri sendiri yang dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada ayat ini adalah:
  1. Tidak melakukan perbuatan baik, padahal peluang dan kesempatan terbuka baginya, dan atau
  2. Melakukan perbuatan buruk, walaupun dengan alasan ada peluang dan kesempatan sekalipun, terlebih lagi jika untuk melakukan keburukan seseorang sampai ke tingkat “mengorbankan” harta, jiwa dan nyawa.
Menzhalimi Diri Sendiri Berlaku Sepanjang Tahun
Sebenarnya tindakan menzhalimi diri sendiri dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sepanjang tahun.
Adapun adanya pelarangan perbuatan ini dalam empat bulan ini bersifat pengukuhan dan penegasan. Seakan-akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Janganlah kamu melakukan perbuatan menzhalimi diri sendiri kapan saja sepanjang tahun, terlebih lagi pada empat bulan haram”.
Kaum Muslimin Mesti Bersatu, Khususnya Saat Menghadapi Keculasan Musuh
Pada taujih Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang kedua dijelaskan bahwa kaum muslimin tidak boleh kehilangan kewaspadaannya, sebab bisa jadi ada musuh yang menyerang kaum muslimin pada empat bulan haram.
Dan jika kaum muslimin diperangi oleh musuh pada empat bulan haram, maka kaum muslimin berkewajiban untuk memerangi dan melawan mereka sebagai bentuk bela diri.
Dan dalam hal ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada kaum muslimin agar dalam menghadapi musuh itu mereka bersatu dan tidak berpecah belah. Istilahnya “kaffatan”. Sebab para musuh pun dalam memerangi kaum muslimin juga bersatu dan beraliansi. Mereka bersepakat untuk menjadikan kaum muslimin sebagai common enemy atau musuh bersama bagi mereka.
Hal ini memberi pengajaran bahwa kaum muslimin diperintahkan untuk terus menjaga dan meningkatkan persatuan dan kesatuan mereka, serta dilarang berpecah belah, khususnya di saat mereka sedang berperang, lebih khusus lagi di saat kaum muslimin diserang, dan lebih-lebih khusus lagi, mereka diperintahkan untuk menjaga dan meningkatkan persatuan dan kesatuan mereka di saat mereka berada di empat bulan haram. Istilah lainnya, mereka diperintahkan untuk terus melakukan konsolidasi, koordinasi dan merapatkan barisan, khususnya pada empat bulan haram ini.
Di antara wujud persatuan adalah ‘adam at takhadzul (tidak dibenarkan saling membiarkan saudaranya diperangi musuh tanpa memberikan pertolongan, pembelaan dan dukungan apa pun).[3]
Ma’iyyatullah (Kebersamaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala)
Pada taujih Rabbani yang ketiga dijelaskan bahwa jika kaum muslimin terus menjaga, memelihara dan meningkatkan ketaqwaan mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sehingga sifat taqwa itu telah melekat kepada mereka, dan karenanya mereka disebut muttaqin, maka mereka akan mendapatkan ma’iyyatullah (kebersamaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala)
Yang dimaksud “kebersamaan” di sini adalah kebersamaan atau ma’iyyatullah yang bersifat khusus, dalam arti Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mendukung mereka, membela dan memberi kemenangan kepada mereka dalam menghadapi musuh-musuh mereka. Sebagaimana ma’iyyatullah kepada nabi Musa ‘Alaihis Salam, sebagaimana diceritakan dalam Al Quran dan sebagaimana ma’iyyatullah kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan Abu Bakar Ash Shiddiq  Radhiyallahu Anhu saat keduanya berada di dalam gua Tsur, sebagaimana diceritakan dalam Al Quran.
Haji dan Puasa Ramadhan
Para ulama’ menjelaskan bahwa ditetapkannya bulan Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram sebagai tiga bulan haram adalah karena adanya momentum ibadah haji. Sedangkan ditetapkannya bulan Rajab sebagai satu bulan haram adalah karena momentum menyambut bulan suci Ramadhan.
Kenapa momentum menyambut bulan suci Ramadhan tidak pada bulan Sya’ban saja yang merupakan satu bulan sebelum Ramadhan?
Wallahu a’lam, dimungkinkan karena bulan Sya’ban dipergunakan untuk “menutup” celah-celah dan kekurangan-kekurangan terkait dengan melemahnya komitmen seseorang pada bulan-bulan setelah Syawal sampai bulan Rajab, dimana sekiranya momentum penyambutan itu ditempatkan pada bulan Sya’ban, maka tidak ada waktu atau kesempatan lagi untuk “melunasi” kelemahan komitmen pada-pada bulan-bulan sebelumnya. Dengan demikian, maka pengingatan akan datangnya bulan suci Ramadhan dilakukan pada bulan Rajab, sedangkan bulan Sya’ban dipergunakan untuk “melunasi” kelemahan komitmen pada bulan-bulan lainnya.


[1] Hadits muttafaqun ‘alaih, lihat Bukhari [4406] dan Muslim [1679].
[2] Penegasan ini juga ada dalam hadits muttafaqun ‘alaih sebagaimana disebut dalam catatan kaki sebelumnya.
[3] Abu Zahrah, zahratut-tafasir, juz. VI, hal. 3300

Oleh : Musyaffa Ahmad Rahim
Banyak orang yang memiliki penghasilan besar, namun selalu merasa tidak cukup. Bahkan tidak jarang pengeluaran mereka lebih besar dari penghasilan yang didapat. Mungkin diri kita pernah merasakan demikian. Maka instropeksilah, mungkin sedek...ah yang kita keluarkan terlalu sedikit, sehingga berkah yang Allah berikan juga sekedarnya. Padahal dalam surat Al An’am ayat 160, Allah sudah janji akan melipatgandakan pahala sampai 10 kali lipat bagi mereka yang berbuat kebaikan. Jadi sebetulnya kita tak perlu ragu untuk menyisihkan penghasilan bagi mereka yang membutuhkan. 1 – 1 = 10, itulah ilmu sedekah. Banyak kejadian dibalik fenomena keajaiban sedekah.
“Mengapa seseorang selalu merasa kurang secara penghasilan? Mungkin karena ia kurang sedekah!”
JAKARTA- Besok malam Sabtu (5/5/2012) ada satu pemandangan spektakuler dari bulan ekstralebar, ekstraterang, dan dijuluki supermoon.
Penampilan yang tidak biasa pada bulan purnama bulan ini mungkin mengejutkan bagi sebagian orang, tapi tidak ada alasan untuk khawatir.
Para pengamat angkasa mencatat bulan purnama terbesar tahun ini akan tiba pada akhir pekan ini.

Bulan akan menjadi penuh pada Sabtu (5/5/2012) pukul 11.35 waktu setempat. Karena bulan purnama pada bulan ini bertepatan dengan masa Bulan paling dekat dengan Bumi, ini akan menjadi yang terbesar pada 2012.

Bulan akan berada pada posisi 221.802 mil (356.955 kilometer) dari planet kita. Ini menawarkan para pengamat angkasa satu pemandangan spektakuler dari bulan ekstralebar, ekstraterang, dan dijuluki supermoon.
Sebaliknya, pada akhir tahun ini, tepatnya 28 November, bulan purnama akan bertepatan dengan jarak terjauh Bulan dengan Bumi, sehingga membuat bulan purnama terkecil.
Menurut para ilmuwan, perbedaan jarak antara Bulan dan Bumi yang sedikit tidak cukup untuk menyebabkan gempa bumi atau efek pasang surut yang ekstrem.


Sumber : TRIBUNNEWS.COM
Iwan Walet, Pimpinan Preman Penyerang Anggota Laskar Islam di Solo Ditangkap
Diposting Kamis, 03-05-2012 | 21:47:50 WIB

Buntut dari aksi pengeroyokan puluhan preman pimpinan Iwan Walet terhadap anggota laskar Islam di Solo, pada Kamis sore (03/05/2012), pihak kepolisian kota Surakarta dilaporkan telah menangkap otak preman penyerang, Iwan Walet.

Laporan ditangkapnya Iwan Walet oleh aparat Kepolisian Resor Kota (Polresta) Surakarta diterima MuslimDaily.Net dari keterangan ketua Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Solo, ustadz Muhammad Sholeh Ibrahim, yang memperoleh informasi dari seorang petugas intel Polresta Surakarta, Kusumo.


Menurut laporan, Iwan Walet ditangkap bersama dengan seorang anak buahnya yang bernama Gombor.


Sementara itu, pihak Kepolisian Resor Kota Surakarta secara resmi melaporkan jumlah korban korban pengeroyokan dari pihak laskar Islam ada 4 orang. Pihak polisi belum merinci lebih jauh siapa saja keempat korban akibat penyerangan preman pimpinan Iwan Walet itu.


Sebagaimana dilaporkan MuslimDaily.Net sebelumnya,
puluhan orang preman mengeroyok 2 orang anggota sebuah organisasi laskar Islam Solo di kampung Kadirejo RT 01/01 Gandekan, Jebres, Solo, Jawa Tengah, Kamis sore (03/05/2012). Satu orang anggota laskar mengalami luka berat dan seorang lagi luka ringan. Korban luka berat dilarikan ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Moewardi.

Bentrokan ini diduga karena dipicu oleh rangkaian perseturuan sebelumnya, yang melibatkan antara laskar dengan kelompok preman pimpinan Iwan Walet.
Kelompok laskar yang dikenal dengan Tim Hisbah Solo selama ini dikenal sangat aktif melakukan penyisiran terhadap kantong-kantong perjudian, mabuk-mabukan, dan aktivitas kemaksiatan di kota Solo.

Sementara, Iwan Walet merupakan salah seorang preman Solo yang dikenal karena aktivitasnya dalam dunia perwaletan. Iwan merupakan mantan anggota TNI dari Kostrad yang dipecat secara tidak hormat karena terlibat dalam sejumlah tindak pidana.




*Keterangan gambar: Iwan Walet saat mengenakan kostum suporter sebuah klub sepakbola.

Sumber

Puluhan Preman Serang 2 Anggota Laskar Islam, Solo Siaga
Diposting Kamis, 03-05-2012 | 19:29:25 WIB

Puluhan orang preman mengeroyok 2 orang anggota sebuah organisasi laskar Islam Solo di kampung Kadirejo RT 01/01 Gandekan, Jebres, Solo, Jawa Tengah, Kamis sore (03/05/2012). Satu orang anggota laskar mengalami luka berat dan seorang lagi luka ringan. Korban luka berat dilarikan ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Moewardi.

Pengeroyokan anggota laskar disinyalir karena dipicu oleh dendam kelompok preman di bawah pimpinan Iwan Walet terhadap keberadaan sejumlah laskar Islam di Surakarta. Pengeroyokan berawal saat dua orang anggota laskar yang tengah mengendarai sepeda motor, Agus Pamuji dan Sandinino di kampung Kadirejo.


Keduanya mengendarai sepeda motor setelah menghadiri takziah. Saat melintasi lokasi kejadian, sekawanan preman setempat ada yang mengenali 2 anggota laskar itu. Sejumlah preman itu pun langsung melakukan pengejaran dan penghadangan terhadap dua anggota laskar.


Karena kalah dalam jumlah massa, membuat Agus dan Sandi keteteran. Keduanya dikeroyok oleh kawanan preman yang bersenjatakan kayu, linggis, dan benda-benda tumpul keras lainnya. Beruntung, Sandi berhasil meloloskan diri dari serbuan puluhan preman, sehingga ia hanya mengalami luka ringan, robek kepala. Sementara Agus Pamuji, warga Sukoharjo, Jawa Tengah, babak belur dihajar preman anak buah Iwan Walet.


Massa preman juga membakar sebuah motor yang dikendarai korban. Polisi yang tiba di lokasi kejadian berhasil mengevakuasi kedua anggota laskar ke rumah sakit serta memadamkan sepeda motor milik Agus yang sudah dibakar massa preman.


Sandinino, warga Semanggi, 23 th, kemudian dilarikan ke IGD Rumah Sakit Islam Kustati, Pasarkliwon, Surakarta karena luka robek di kepala. Sementara Agus harus dibawa ke RSUD Moewardi.


Pengeroyokan 2 orang anggota laskar memicu ratusan rekan-rekan anggota laskar lainnya mendatangi lokasi kejadian. Mereka bermaksud mencari Iwan Walet yang dianggap sebagai otak pimpinan pengeroyokan. Ratusan laskar menyerbu kampung Kadirejo. Mereka belum berhasil menemukan Iwan Walet yang dicari.


Aparat kepolisian dari satuan Dalmas sempat melemparkan granat flashbang yang membuat suara ledakan cukup keras. Keterangan ini diperoleh dari aparat kepolisian kepada MuslimDaily.Net. Satu wartawan TATV bernama Harun Rasyid terluka di bagian bibir, berdarah.


Saat ini di lokasi kejadian, aparat Kepolisian dari Polresta Solo, Jawa Tengah disiagakan di Jalan RE Martadinata, Gandekan, Jebres, Solo, Jawa Tengah.


Bentrokan ini diduga karena dipicu oleh rangkaian perseturuan sebelumnya, yang melibatkan antara laskar dengan kelompok preman pimpinan Iwan Walet. Kelompok laskar yang dikenal dengan Tim Hisbah Solo selama ini dikenal sangat aktif melakukan penyisiran terhadap kantong-kantong perjudian, mabuk-mabukan, dan aktivitas kemaksiatan di kota Solo.


Sementara, Iwan Walet merupakan salah seorang preman Solo yang dikenal karena aktivitasnya dalam dunia perwaletan. Iwan merupakan mantan anggota TNI dari Kostrad yang dipecat secara tidak hormat karena terlibat dalam sejumlah tindak pidana.


Sumber
NEW YORK -- Jumlah penduduk Muslim di Amerika Serikat meningkat tajam dalam satu dekade tarakhir. Jumlah umat Muslim di negeri Paman Sam itu mengalahkan jumlah warga Yahudi untuk kali pertama di sebagian besar Midwest.

Dalam sebuah sensus agama di AS yang digelar Asosiasi Statistik dari Badan Keagamaan Amerika, Selasa (1/5) waktu setempat, imbas dari meroketnya populasi warga Muslim AS membuat gereja-gereja di AS kehilangan jamaahnya dan sering kosong saat kegiatan agama.

Umat Muslim di AS naik menjadi 2,6 juta orang pada 2010, bertambah dua kali lipat lebih dari satu juta orang pada 2000 lalu. "Kenaikan tersebut karena derasnya arus imigrasi dan jumlah penduduk yang menjadi mualaf," kata Dale Jones, peneliti yang terlibat dalam sensus asosiasi statistik untuk badan-badan agama di Amerika (ASARB) itu.

Selain Muslim, jumlah pemeluk Mormon atau The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints juga meningkat sebesar 45 persen, menjadi 6,1 persen pada 2010. "Di setiap negara bagian Kristen tetap menjadi kelompok agama yang paling tinggi di negeri itu. Tapi kami menemukan sejumlah hal menarik, yakni pertumbuhan pemeluk Mormon, yang tercatat di 26 negara bagian," kata Jones dalam sebuah konfrensi di Chicago, AS.

Dalam sensus itu, para peneliti mendata jumlah pemeluk dari 236 agama di negeri adidaya tersebut. Anggota keluarga dari pemeluk agama juga termasuk dalam data yang dihitung. Secara umum 55 persen warga AS masih beribadah secara teratur. Meski demikian, sebagian besar survey yang pernah dilakukan menyebut sekitar 85 persen penduduk AS yang mengaku beragama, tidak beribadah secara teratur. Sementara 158 juta orang As mengaku tidak memeluk agama apa pun alias ateis.

Dari sejumlah agama besar, Katolik menjadi agama yang kehilangan pemeluk terbanyak, berkurang sebanyak lima persen menjadi 58,9 juta jiwa selama satu dekade terakhir.

"Katolik mengalami pengurangan jumlah pemeluk paling banyak," ujar Jones sembari menyebut Maine, tempat terjadinya kasus pelecehan anak oleh pastor.

Di wilayah New England, upacara pemakaman pemeluk Katolik melebihi jumlah pemakaman pemeluk Kristen Baptis. Sedankan jumlah pemeluk Gereja Southern Baptist Convention mempunyai jumlah pemeluk yang stabil, yakni 19,9 juta jiwa selama satu dekade terakhir.

Gereja Metodist kehilangan pemeluk sebanyak empat persen menjadi 9,9 juta jiwa, Gereja Luteran Evangelis kehilangan 18 persen pemeluk menjadi 4,2 juta jiwa, dan Gereja Episkopal kehilangan 15 persen mejadi hanya 1,95 jiwa.

Meski pelan, pemeluk kongregasi-kongregasi protestan Evangelis terus bertumbuh, menjadi 50 juta pemeluk. Uniknya, peningkatan itu terjadi di daerah perkotaan dan hanya terdiri dari komunitas-komunitas yang terdiri dari hanya 100 orang.

Pemeluk Agama Budha juga meningkat drastis di negara-negara bagian di sekitar Rocky Montain, tempat jumlah kuil dan kongregasinya semakin meningkat. Jumlah pemeluk Budha di AS kini tercatat hampir satu juta jiwa.

Sumber : Republika.co.id
Adnin Armas, MA, Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) mengajak masyarakat menekan  pemerintah untuk bersikap tegas terhadap promotor-promotor yang sering menghadirkan konser-konser tidak jelas manfaatnya.

“Atas dasar apa perizinan konser-konser seperti ini bisa dikeluarkan pemerintah di Indonesia. Padahal konser music seperti ini jelas merusak dan merugikan umat Islam” jelasnya pada kajian “Islam Versus Aliran Sesat” yang dimotori oleh Youth Islamic Study Club  (YISC) Al Azhar belum lama ini. Pernyataan penulis buku “Metodologi Bibel dalam Studi Al-Quran” ini dikemukakan menyangkut rencana konser artis asal Amerika Serikat (AS) Lady Gaga di Jakarta dalam rangka tur bertajuk “The Born This Way Ball Tour” 3 Juni 2012 mendatang.
Adnin juga sendiri mengkritik sikap lemah pemerintah Indonesia untuk mengawal jati diri bangsa. Adnin berharap perlu ada desakan dari umat agar mempertanyakan pihak sponsor yang mengundang, dan semua perizinan perlu ditinjau kembali.
Lebih jauh, ia mengatakan agar pemerintah perlu membuat peraturan khusus yang mengatur secara ketat dan selektif mengenai konser-konser atau masuknya artis asing ke Indonesia.
“Sangat perlu peraturan yang mengatur hal – hal seperti ini, karena ini menyangkut agenda melemahkan umat. Dalam sebuah perang, sebelum militer dikalahkan yang dilemahkan adalah ideologinya dulu. Jadi kehadiran hal – hal seperti Lady Gaga ini justru akan melemahkan moral dan akhlak generasi kita,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Fahmi Salim, MA mengatakan, Indonesia seharusnya malu dengan Korea, Jepang dan negara seperti China yang dinilai lebih tegas dan selektif terhadap kasus-kaksus seperti ini. Menurut Salim, mereka yang bukan negara Islam saja tapi punya sikap yang tegas.
“Korea dan Jepang saja bisa tegas, kita yang mayoritas Islam justru membiarkan konser Lady Gaga ada di Indonesia,” jelasnya.
Kegalauan Para Ibu
Usai acara, Adnin Armas sempat didatangi seorang ibu rumah tangga bernama Hasmi. Wanita yang berdomisili di Cilandak Jakarta Selatan ini menemuinya dengan berkaca – kaca dengan raut wajah agak sedih.
“Saya khawatir sekali dengan masa depan cucu – cucu saya. Saya harap pemerintah bisa selektif dengan ideologi – ideologi yang masuk ke Indonesia. Dan bersikap tegas dengan budaya yang bertentangan dengan ketimuran kita,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mendukung usulan Adnin agar pemerintah bisa memiliki peraturan tegas dan selektif terhadap setiap tamu atau artis yang datang ke Indonesia yang dampaknya hanya akan mempengaruhi sikap, perilaku dan pemikiran merusak.

Sebelum kehadiran Lady Gaga, beberapa promotor Indonesia juga pernah megadakan konser-konser music seperti; Metallica, Sepultura (tahun 1994), dan terakhir kehadiran band Iron Maiden. Bulan Aprik lalu konser music metal dengan menghadirkan band Suffocatioan, DRI dan NILE yang dalam lagunya banyak mengadung pesan satanisme dan penghujatan terhadap Islam.
Meski demikian, rakyat Indonesia pernah merasakan ketegasan seorang Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Ad-Interim, Dr Mohammad Nuh, yang membatalkan kehadiran bintang film porno asal Jepang Maria Ozawa atau dikenal dengan Miyabi ke Indonesia.*

Sumber : Hidayatullah.com

على الداعية أن يصل إلى رتبة المُبَلِّغ وأن يسعى إلى البلاغ
“Seorang da’i harus sampai pada tingkatan penyampaian yang optimal dan selalu berusaha memberikan penyampaian yang menyentuh (balagh).”
Dalam mengemban misi dakwah, seorang da’i layaknya seorang penjual yang tengah mempromosikan barang dagangannya. Sang penjual biasanya mengemas daganganya sedemikian rupa sehingga dapat menarik hati para pembeli. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari mencari kata-kata yang eye catching, penyajian yang menarik, hingga promosi disertai bonus-bonus yang menggiurkan, tentu saja para pembeli langsung memburu dan ‘tergila-gila’ untuk mendapatkannya.
Begitu pula dalam berdakwah, bagaimana seorang da’i juga dituntut bisa mengemas dakwah ini menjadi menarik, sehingga risalah mulia ini dapat tersampaikan dengan begitu memikat, dan umat manusia pun tertarik untuk berbondong-bondong menyambut seruan kebenaran ini. Mereka menjadi terpaku dengan keindahannya, kedamaiannya dan kelembutannya, sehingga memilih Islam sebagai lentera dalam kehidupannya di dunia.
Diantara cara dalam menjadikan dakwah ini menjadi memikat adalah dengan penyampaian yang jelas, terang, tegas dan mampu menyentuh hati para mad’u (obyek dakwah). Hal ini yang dipesankan Allah Swt. kepada para nabi dan rasul melalui firman-Nya, “Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. An-nahl: 35)
Namun ketika dakwah itu justru direspon negatif dan kaum yang didakwahi berpaling menolak kebenaran yang dibawa, maka kondisi seperti ini merupakan akhir dari usaha yang telah disampaikan secara optimal. Sebagaimana fiman Allah tentang Nabi Shaleh As.. “Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat’.” (Al-A’raf: 79)
Tuntutan kesempurnaan dalam menyampaikan isi dakwah menjadi titik tekan sendiri yang Allah sampaikan kepada para Nabi Muhammad Saw. Allah Swt. berfirman, “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 67)
Imam Al-Qurtubi kemudian menafsirkan ayat ini, beliau mengatakan, “Hal ini merupakan pengajaran yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw., bahwa dalam menyampaikan ilmu kepada umat agar tidak menyembunyikan sesuatu apapun dari Syariat yang telah ditetapkan”. Dengan kata lain, transfer ilmu yang disampaikan harus secara menyeluruh sebagaimana yang telah diturunkan, tidak setengah-setengah apalagi ada yang disembunyikan.
Disamping itu maksud dari kata البلاغ (penyampaian) tidak sebatas hanya memberi kabar tentang kebenaran saja, atau hanya mengumumkan tentang kebenaran itu, tapi yang seharusnya dilakukan adalah bagaimana caranya agar risalah mulia yang didakwahkan ini sampai kepada seluruh umat manusia dan dapat mereka serap dengan baik.
Agar pesan dakwah itu dapat tersampaikan dengan baik ke mad’u, maka seorang da’i perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
Pertama, selayaknya seorang da’i menjiwai tentang apa yang ia sampaikan kepada orang lain. Karena mustahil sesuatu yang tidak lahir dari penjiwaan yang baik yang bersumber dari kesadaran di dalam hati, akan mendapat penerimaan yang baik pula dari hati.
Rasulullah Saw bersabda: “Allah telah memberi kenikmatan wajah yang berseri-seri kepada sesorang yang mendengar sabdaku lalu ia menyadarinya, menghafalnya, dan menyampaikannya, dan telah dekat orang yang mendalami ilmu kepada yang lebih mendalaminya. Ada tiga hal yang tidak boleh terhalang dari hati seorang muslim: ikhlas beramal karena Allah, menasehati pemimpin-pemimpin kaum Muslimin, dan komitmen dengan jamaah mereka, karena dakwah senantisa membentang di belakang mereka.” (HR. Tarmidzi)
Al Khitaby dalam penjelasan hadis ini memberikan tekanan dalam dua hal, pertama, nadharah yang memiliki makna kenikmatan dan wajah yang berseri-seri hadir karena pengaruh dari penyampaian seorang da'i terhadap mereka yang mendengarnya, maka dari itu para da'i disebut sebagai pemilik wajah yang cerah baik di dunia maupun di akhirat. Kedua, makna "menyadari" dalam konteks hadis di atas, berdefinisikan menghafal teksnya lalu mengamalkannya dalam kehidupan. Disamping itu juga memahami makna-makna hadis secara utuh baik periwayat dan matannya, serta memahami penjelasan isinya.
Kedua, berdakwah dengan memilah-milih kata yang mampu memikat, sehingga dapat membekas di hati para pendengar. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt., “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.” (An-Nisa: 63)
Inilah pentingnya bagi seorang da’i untuk gemar membaca. Karena dengan banyak membaca,  seorang da’i menjadi kaya dengan pembendaharaan kata yang banyak, sehingga kata-kata yang terucap dari lisannya dapat mengalir indah dan membekas di setiap hati para mad’u-nya.
Kata-kata yang berbobot itu paling tidak mencakup hal berikut, yaitu berisikan kabar yang menyenangkan, menakutkan, peringatan, mengingatkan, motivasi pahala serta ancaman siksa. Dengan demikian mad’u pun akan tersentuh hatinya, gembira dengan janji yang menyenangkan, dan memiliki rasa cemas akibat kesalahan yang pernah dilakukan, sehingga memohon kepada Allah agar ia dijauhkan dari ancaman siksa neraka.
Ketiga, Al Quran telah menjabarkan pentingnya menyampaikan dakwah dengan lancar tak terabata-bata dan fasih secara lisan. Sebagaimana firman Allah Swt. yang diucapkan nabi Musa As. “Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (Thaha: 27-28)
Nabi Musa dalam hal ini menyadari bahwa dengan perkataan yang fasih menjadi kunci dari membekasnya penyampaian dan kokohnya argumentasi. Imam Ar-Razy kemudian menjelaskan, bahwa para Ulama berbeda pendapat terkait alasan Nabi Musa As. meminta kepada Allah agar dilepaskan dari kekakuan lidahnya, pertama, agar tidak ada kesalahan fatal yang terjadi ketika penyampaian, kedua, mencegah agar jangan sampai para pendengarnya kemudian bubar, karena kekakuan dalam berbicara memberikan pengaruh kepada para pendengar sehingga tak lagi menarik perhatiannya, ketiga, meminta agar dimudahkan dalam penyampaian, karena Nabi Musa As. dalam hal ini tengah berhadapan dengan Fir’aun yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan, sehingga butuh jaminan kemudahan dalam berbicara. Karena kalau sudah kesulitan dalam memulai pembicaraan di awal maka akan berlanjut hingga akhir.
Keempat, yang membantu seorang da’i memiliki penyampaian yang baik dan menyentuh adalah dengan menghadirkan rekan-rekan seperjuangannya yang lain, berada disampingnya untuk saling menguatkan, sehingga dapat memberi ketenangan dan kepercayaan diri yang lebih. Ini dalam konteks personal pribadi sang da’i, namun dari sisi lain, yaitu pihak mad’u, mereka akan melihat ternyata sang da’i tidak sendirian, dan menilai dakwahnya telah memberikan dampak positif, terbukti dengan adanya para pengikut ataupun rekan yang banyak. Sehingga dapat memantapkan kepercayaan mad’u tersebut untuk kemudian mendengarkan kata demi kata yang disampaikan oleh sang da’i.
Sebagaimana firman Allah Swt. kepada Nabi Musa As., “Allah berfirman: "Kami akan membantumu dengan saudaramu” (QS. Al-Qashash: 35) dan juga dalam QS. Toha: 29-32, Allah berfirman terkait permintaa Nabi Musa As., "Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku. (yaitu) Harun, saudaraku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku. Dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku"
Imam Ar-Razy menafsirkan ayat ini dengan dua kesimpulan, pertama, Nabi Musa As. meminta teman dalam hal ini saudaranya, Nabi Harun As. karena merasa keterbatasan dirinya sebagai seorang hamba yang memiliki kekurangan, sehingga ia butuh teman yang dapat menguatkan, dan yang kedua, dikarenakan untuk mendakwahi agama ini dibutuhkan kekuatan do’a, sehingga ia pun memohon kepada Allah Swt. agar ia diteguhkan.
Kelima, seorang da’i hendaknya memanfaatkan segala fasilitas yang ada sebagai wasilah untuk memudahkan penjelasan risalah mulia ini kepada umat. Di era modern seperti sekarang, para da’i dituntut untuk melekslide power point, bisa pula melalui agenda rihlah melaui tadabur alam, out bound, games dan sarana menarik lainnya. teknologi, sehingga dakwah ini ditampilkan secara menarik, tidak ketinggalan zaman dan berjalan sesuai dengan sarana modern yang ada, seperti dengan internet, film, nasyid, novel,
Al Quran sendiri telah menceritakan bagaimana dakwah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As. dengan menggunakan perantara alam, untuk kemudian memberikan pelajaran kepada kaumnya agar kemudian menyembah Allah Swt.
Sebagaimana termaktub dalam firman-Nya: “Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku" Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: Saya tidak suka kepada yang tenggelam".Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat". Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. Al-An’aam: 76-79)
Keenam, untuk memiliki penyampaian dakwah yang optimal, seorang da’i harus kreatif dan cerdas melihat peluang dalam setiap waktu dan kondisi. Bisa jadi obyek dakwah yang ia seru kepada jalan kebaikan, ternyata tak biasa menerima secara spontan, tapi harus pendekatan perlahan. Ada yang tak bisa didekati pada waktu siang karena sibuk, maka cerdaslah untuk memilih waktu lain. Ada yang ketika sehat begitu keras untuk menerima kebenaran, dekatilah ia di waktu sakit, mungkin hatinya bisa lebih luluh pada saat itu. Maka berseni dan cerdaslah melihat peluang dalam menyampaikan dakwah.
Sebagaimana firman Allah Swt. melalui lisan nabi Nuh As. yang termaktub dalam QS. Nuh 5-10. Terkait ayat itu Ibnu Katsir kemudian mengatakan, “kreatiflah dalam berdakwah, agar misi menyampaikan risalah mulia ini berakhir dengan kesuksesan.”
Ketujuh, agar pesan dakwah tersampaikan dengan baik, maka seorang da’i selayaknya menyampaikannya dengan penuh kelembutan (layyinan), tidak dengan cara yang keras, memaksa, apalagi kasar. Dekati mad’u dengan cara yang baik, panggil ia dengan nama yang ia sukai, perlakukan dengan penuh sopan, buat ia terpikat, sehingga apa yang disampaikan pun dapat menyentuh hatinya.
Allah Swt. telah memerintahkan Nabi Musa As. mendakwahi Fir’aun dengan cara yang lembut, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran, "Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (QS. Thaha: 43-44)
Dalam ayat lain Allah Swt. juga memerintahkan Nabi Muhammad Saw. untuk berdakwah  dengan penuh hikmah, "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS.An-Nahl: 125)
Wallahu al Musta’an
Disarikan dari kitab “Qawaidu ad-da’wah ila Allah” karya Dr. Hamam Abdurrahim Sa’id, cetakan Dârul wafâ, Manshurah, Mesir.
Ada enam perkara, apabila dimiliki oleh seseorang maka telah sempurnalah keimanannya : (1) memerangi musuh Allah dengan pedang, (2) tetap menyempurnakan puasa walaupun di musim panas, (3) tetap menyempurnakan wudhu walaupun di musim dingin, (4) tetap bergegas menuju mesjid (untuk melaksanakan shalat berjama'ah) walaupun di saat mendung, (5) meninggalkan perdebatan dan berbantah-bantahan walaupun ia tahu bahwa ia berada di pihak yang benar dan (6) bersabar saat ditimpa musibah.
(Yahya bin Muadz)
Nasehat KUBUR: 1.Aq adlh t4 yg paling gelap, mk terangilh aq dg tahajud. 2.Aq adlh t4 yg paling smpit, mk luasknlh aq dg silatrhmi. 3.Aq adlh t4 yg paling sepi, mk ramaiknlh aq dg prbnyak bc alqr'an. 4.Aq adlh t4nya binatng yg mnjijikn, mk racunilh ia dg aml sedekh. 5.Aq adlh t4 munkar& Nakir brtanya, mk prsiapknlh jwbnmu dg prbnyak mngcapkn klmah "LAILAHA ILLALLOH". krm ini smmpumu & seikhlsmu kpd org muslim, insyaALLOH kbaiknmu akn dbls olh Alloh swt.
JAKARTA - Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) terus mengadakan sosialisasi dan silaturahmi ke instansi-instansi yang nanti akan banyak berhubungan dengan mereka. Oleh karena itu, pada Rabu 04/04 kemarin, delegasi Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dipimpin oleh Sekjend MIUMI, Bachtiar Nasir, menemui Wakil Menteri Agama (Wamenag), Prof. Dr. Nasarudin Umar, MA di kantor Wamenag.

Pertemuan antara MIUMI dan Wamenag sore itu dalam rangka mengenalkan MIUMI sebagai lembaga Riset dan Kajian Ilmiah para intelektual dan ulama muda Indonesia kepada Wamenag sebagai ulil amri dalam bidang keumatan.

“Kami bergerak dibidang riset, kajian ilmiah dan keulamaan. Tidak bergerak dibidang politik praktis. Karena itu kami mendukung fatwa ulama” ujar Sekjend MIUMI  membuka audiensi dengan Wamenag.

Selain staf, Muhammad Zaitun, MA. (Wahdah Islamiyah), Fahmi Salim, MA. (Wakasekjend MIUMI), Ust. Fadzlan Garamatan (dai kharismatik asal Papua) turut mendampingi Ust. Bachtiar Nasir dalam agenda tersebut.

Mengapresiasi keaneragaman MIUMI ini, Nasarudin Umar menganalogikan keberagaman MIUMI dengan keindahan lukisan. “Lukisan itu tampak indah, justru karena terdiri dari warna-warni. Coba kalau seandainya hanya satu warna, tidak elok” jelasnya beranalogi.

“Saya berharap ke depan MIUMI ini bisa seperti Bhineka Tunggal Ika-nya Indonesia,” tuturnya. 

Meyambut kehadiran MIUMI, Wamenag yang juga Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) ini yakin MIUMI akan menjadi besar dan bisa menengahi permasalah umat.

“Saya tidak mau memujilah, tapi melihat tokoh-tokoh Islam yang sudah bergabung bersama MIUMI ini, saya optimis MIUMI nanti akan besar dan saya berharap bisa menjembatani perbedaan-perbedaan di antara ormas atau kelompok-kelompok Islam di tanah air ini” ungkapnya. 
Sumber : muslimdaily.net
1. “Jilbab itu kan dipake khusus buat shalat atau ke pengajian. Kalau di tempat umum ya mesti dibuka. Bego aja kebalik-balik”.
2. Tidak hanya sampai di situ, si A menyamakan jilbab dengan swimsuit. Pakaian itu penggunaannya bersifat situasional. Kalau mau pergi mengaji ya pakai jilbab. Kalau mau berenang ya pakai baju renang.  “Masa renang pake mukena,” tukasnya lagi. “Segampang itu kok nggak paham,”
3. A juga mengatakan pendapat yang bisa mengundang kontroversi, yakni tentang alasan orang beragama. “Kenapa orang beragama? 1) karena miskin; 2) karena rentan dan merasa terancam,” ujarnya…
Apakah ke tiga pernyataan itu benar??

Tentang pernyataan pertama; kewajiban berjilbab Allah utarakan dalam Al-Quran secara umum, tidak terikat dengan momen tertentu; khusus untuk di pengajian misalkan. Yang ada malah sebaliknya, ketika shalat diwajibkan, jilbab (menutup aurat) menjadi salah satu pakaian khusus (ketentuan khusus) yang tidak bisa tidak, harus dipakai saat shalat. Jadi, siapa yang kebalik-balik?? Yang benar itu dari umum ke khusus, bukan dari khusus ke umum.
Jilbab dan pakaian renang adalah perbandingan yang tidak jauh berbeda dengan perbandingan antara basket dan main catur, meskipun kedua-duanya sama-sama olah raga, tapi rule of the gamenya berbeda, jika Allah syariatkan jilbab untuk dipakai di semua tempat, maka pabrik pembuat pakaian olah raga membuat pakaian renang khusus untuk di tempat renang. Adat manusia juga tidak membenarkan adanya seseorang yang ceramah di atas podium dengan memakai pakaian renang bukan? sebaliknya, tidak ada seorang pun yang protes jika seorang wanita berjilbab mengisi seminar di depan orang banyak, justru sebaliknya, akan banyak yang protes jika wanita tersebut memakai pakaian “ala kadarnya” ketika mengisi seminar.
Tentang pernyataan ketiga: justru kenyataan yang terjadi saat ini adalah, orang miskin tidak sedikit yang stress, gila. Kenapa gila? salah satu faktornya karena tidak beragama. Agama bukan pabrik yang di situ ada untung rugi materil; yang beragama kaya, yang tidak miskin! tidak selalu begitu. Yang beragama aman dari ancaman, yang tidak, selalu terancam, tidak selalu juga! Yang tepat adalah, kebanyakan orang menjadi begitu religius karena SADAR, sadar akan adanya pencipta, sadar akan adanya nikmat surga dan siksa neraka, sadar akan dirinya yang bukan siapa-siapa. Beda loh, sadar dengan terancam!!
Penutup
Setidaknya, jilbab adalah salah satu indikator akan kesadaran beragama seorang wanita. Jilbab tidak mengekang wanita, yang ada malah menjaga, namun terkadang sebagian memaknai menjaga dengan mengekang. Semoga Allah selalu membimbing kita untuk berfikir benar, bukan hanya bagus dan sensasional. Wallahualam bis shawab.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/17997/pernyataan-pernyataan-memilukan-tentang-jilbab/#ixzz1rCV9OFh7
“Jangan katakan kepada Allah kalau kita punya masalah, tapi katakan kepada masalah kalau kita punya Allah”
Kutipan di atas saya copas dari status Facebook salah satu teman saya. Setelah membaca status itu saya langsung me-like-Nya padahal baru beberapa detik muncul di laman Facebook. Karena menurut saya kata-kata di atas sangat luar biasa. Iya, di tengah banyak dinding-dinding Facebook digunakan sebagai luapan keluh kesah, kekesalan, dsb. Yang seolah-olah menunjukkan ketidakikhlasan kita dalam menerima segala takdir ketentuan Allah Swt, teman saya ini meng-update status dengan nilai optimis.
Status teman saya di atas  sangat luar biasa menurut saya, dan status seperti itulah yang semestinya kita publish ke depan facebooker mania. Karena dengan membaca status yang luar biasa itu, teman kita yang membacanya mungkin akan tercerahkan walau boleh jadi sebelum membaca status kita itu dia sedang kegundahan. Kemudian biasanya status yang luar biasa di laman Facebook  akan  memunculkan komen-komen luar biasa lainya. Kalau begitu bukankah pahala akan mengalir kepada si peng-update status itu? Karena dia telah mencerahkan yang sedang gundah,memberi solusi yang sedang dirundung masalah.Jika ini yang terjadi, maka satu sisi fositif  laman “muka buku” ini telah dirasakan, dan kita telah menanam satu kebajikan.
Jika sebalik-Nya yang kita lakukan, yakni meng-update status-status yang berisi keluhan, emosi, cacian dan lain sebagainya. Apakah itu tidak menimbulkan satu dosa bagi kita sendiri. Karena kita sangat dilarang berkeluh kesah akan masalah atau takdir yang kita jalani. Kemudian jika ada teman yang memberikan jempol manis-nya akan status yang berisi keluh kesah itu, apakah dia tidak dikatakan melakukan sebuah keburukan karena seolah teman kita itu merasa setuju dengan apa yang kita update(keluh kesah kita).Jika itu yang terjadi berarti kita telah menanam satu keburukan bagi diri sendiri bahkan orang lain.
Jujur saya sangat tidak suka ketika membaca status-status teman saya yang berisi keluh kesah, sumpah serapah, atau cacian atas apa yang sedang mereka rasakan saat meng-update status-status mereka tersebut. Apalagi kalau saya tau mereka adalah teman-teman saya yang sama-sama telah mengenyam pendidikan pesantren yang diajarkan bagaimana sebenarnya kita dalam menghadapi sebuah masalah. Yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah serta introspeksi diri. Mungkin jadi masalah itu datang sebagai teguran darinya atas apa yang telah kita lakukan sebelum-Nya atau masalah itu datang sebagai ujian untuk men-tes keimanan kita.
Ketika kita ditimpa sebuah permasalahan, berarti Allah mau kita lebih dewasa dalam menghadapi hidup ini. Ketika kita ditimpa musibah, berarti Allah ingin agar kita mendekat kepadanya. Ketika kita ditimpa kesusahan, berarti Allah telah menyediakan untuk kita kemudahan. Karena sesungguhnya dibalik permasalahan ada proses pendewasaan, dibalik musibah ada hikmah, dibalik kesusahan ada kemudahan.
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”(QS. al-Insyiroh: 5-6)
Ketika permasalahan datang menghampiri, jangan mengeluh di hadapan sang pencipta, jangan memberontak akan keputusannya apalagi mengatakan bahwa Allah tidak adil. Namun, mintalah agar kita diberi kesabaran serta ketegaran dalam menghadapinya, diberikan solusi yang terbaik bagi kita, dan selalu mengharap dia memberikan ganjaran pahala untuk kita.
Tanpa malam purnama takkan indah. Tanpa lapar nikmat makanan takkan terasa. Tanpa dahaga sejuknya dingin air takkan memberi banyak makna. Begitu juga kemenangan atau kemudahan takkan banyak memberi arti tanpa didahului rintangan masalah kesusahan. Setelah mendung terbitlah cerah.
Tak ada hidup tanpa masalah, karena masalah adalah sunnah-Nya. Yang kita perlukan hanya kebijakan dalam menyikapinya. Jika ketegaran yang kita bina, nikmat masalah akan terasa. Jika keluhan yang kita bina sengsara masalah akan selalu bertambah.
Masalah datang untuk kita hadapi, bukan untuk dicaci atau dimaki. Masalah adalah mediator dalam proses pendewasaan. Tanpa masalah kita takkan pernah dewasa. Tanpa masalah kita takkan menjadi orang yang luar biasa.”Jalan yang lurus dan mulus takkan pernah menghasilkan pengemudi yang hebat. Laut yang tenang takkan pernah menghasilkan pelaut yang tangguh. Langit yang cerah takkan pernah menghasilkan pilot yang handal.”
Di saat kita mencari solusi dalam suatu masalah, di saat itulah sebuah proses pendewasaan hidup akan dimulai. maka, berbahagialah mereka yang memiliki masalah dan mampu mengatasi masalah tersebut dengan brilian, yaitu dengan tetap selalu bersandar akan keputusan sang eksekutor yang maha adil setelah tawakal dilakukan. Mari bersama taklukkan masalah…!

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19201/masalah-itu-manis/#ixzz1rCTEJeWy
Setiap orang yang telah berumah tangga atau akan pasti menginginkan si buah hati. Mungkin ada yang telah menanti bertahun-tahun, namun belum juga dikaruniai buah hati. Juga ada yang menginginkan agar anaknya menjadi sholeh. Maka perbanyaklah do’a akan hal tersebut. Banyak do’a yang telah dicontohkan dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Di antaranya ada do’a yang berasal dari para Nabi ‘alaihimush sholaatu was salaam.
Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam, berkata,
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Robbi hablii minash shoolihiin” [Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh]”. (QS. Ash Shaffaat: 100). Ini adalah do’a yang bisa dipanjatkan untuk meminta keturunan, terutama keturunan yang sholeh. Dalam Zaadul Masiir (7/71), dijelaskan maksud ayat tersebut oleh Ibnul Jauzi rahimahullah, “Ya Rabbku, anugerahkanlah padaku anak yang sholeh yang nanti termasuk jajaran orang-orang yang sholeh.” Asy Syaukani rahimahullah mengatakan apa yang dikatakan oleh para pakar tafsir, “Ya Rabb, anugerahkanlah padaku anak yang sholeh yang termasuk jajaran orang-orang yang sholeh, yang bisa semakin menolongku taat pada-Mu”. Jadi yang namanya keturunan terutama yang sholeh bisa membantu seseorang semakin taat pada Allah.
Nabi Dzakariya ‘alaihis salaam berdo’a,
رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Robbi hab lii min ladunka dzurriyyatan thoyyibatan, innaka samii’ud du’aa’” [Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mengdengar doa] (QS. Ali Imron: 38). Maksud do’a ini kata Ibnu Katsir rahimahullah, “Ya Rabb anugerahkanlah padaku dari sisi-Mu keturunan yang thoyyib yaitu anak yang sholeh. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do’a.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3/54)
Seseorang yang telah dewasa dan menginjak usia 40 tahun memohon pada Allah,
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Robbi awzi’nii an asy-kuro ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala shoolihan tardhooh, wa ash-lihlii fii dzurriyatii, inni tubtu ilaika wa inni minal muslimiin” [Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri] (QS. Al Ahqof: 15). Do’a ini juga berisi permintaan kebaikan pada anak dan keturunan.
‘Ibadurrahman (hamba Allah Yang Maha Pengasih) berdo’a,
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Robbanaa hab lanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa” [Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa]. (QS. Al Furqon: 74)
Al Qurtubhi rahimahullah berkata,
ليس شيء أقر لعين المؤمن من أن يرى زوجته وأولاده مطيعين لله عز وجل.
“Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang mukmin selain melihat istri dan keturunannya taat pada Allah ‘azza wa jalla.” Perkataan semacam ini juga dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10/333)
Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendo’akan anak Ummu Sulaim, yaitu Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma dengan do’a,
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ
“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang engkau karuniakan padanya.” (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480). Dari sini seseorang bisa berdo’a untuk meminta banyak keturunan yang sholeh pada Allah,
اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي
“Allahumma ak-tsir maalii wa waladii, wa baarik lii fiimaa a’thoitanii“ (Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau beri).”
Moga dengan lima do’a di atas, Allah menganugerahkan pada kita sekalian keturunan bagi yang belum dianugerahi dan dikaruniai anak-anak yang sholeh nan sholehah. Aamiin Yaa Samii’ud Du’aa’.

Artikel www.muslim.or.id
Postingan Lama Beranda
  • Recent Posts
  • Comments
Buku Tamu
Advertisement
.
2010 Simplex Enews. All rights reserved.
Designed by SimplexDesign