• Beranda
  • Daftar Isi
    • Tausiyah
    • Informasi
    • Berita
    • Artikel
    • Tanya Jawab
    • Lowongan Kerja
    • Jual Beli
  • Cara Daftar
  • Donasi
  • SMS Gratis
  • Berbagi
  • Download
  • Forum Diskusi
  • Pesan Layanan Umat
You are here : Home »
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Suatu hari, saat  Rasulullah SAW shalat, beliau mendengar suara gaduh di belakang. Seusai shalat Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, apa gerangan yang telah terjadi, sehingga terdengar suara gaduh pada saat shalat? Para sahabat menjawab: “Kami tergesa-gesa mendatangi shalat”. Rasulullah SAW kemudian bersabda: ” Jika kalian mendatangi shalat hendaklah kalian (berjalan dengan) tenang. Ikutilah raka’at yang dapat kalian ikuti dan sempurnakanlah raka’at yang tertinggal.” (HR Bukhari Muslim).

Tergesa-gesa adalah kondisi psikogis seseorang yang secara emosional ingin cepat-cepat melakukan sesuatu, kosong dari pertimbangan fikiran. Karena tanpa pertimbangan terlebih dahulu, maka aktivitas yang dilakukannya juga tidak produktif.

Apa yang terjadi dengan beberapa sahabat Rasulullah SAW seperti dalam kisah di atas juga menggambarkan, bahwa bila shalat dilakukan dengan tidak tenang dan terburu-buru akan merefleksikan shalat yang tidak khusyu’. Shalat tidak khusyu’ tentunya bukanlah shalat yang produktif, karena tidak menghasilkan pahala, kecuali hanya capek semata.

Yang dimaksud tergesa-gesa dalam hadis tersebut di atas adalah tergesa-gesa mendatangi shalat, bukan bersegera mendirikan shalat. Bersegera mendatangi shalat justru dianjurkan karena shalat yang utama adalah “al-shalat ‘alaa waqtiha” (shalat pada (awal) waktunya). Yang dimaksud bersegera mendirikan shalat adalah, ketika mendengar adzan, segala aktivitas ditinggalkan dan tanpa menunda-nunda segera mendatangi masjid. Berbeda dengan tergesa-gesa seperti tersebut dalam hadis tersebut di atas, tergesa-gesa di sini maksudnya, ketika mendatangi tempat shalat, ia berjalan terburu-buru dengan kondisi emosionalnya bergolak. Maka yang shahih adalah, ketika mendengar adzan segeralah tinggalkan aktivitas, ambil air wudlu berjalanlah ke tempat shalat dengan tenang jangan berlari-lari, menata hati karena akan bertemu dangan Allah.

Larangan tergesa-gesa ini merupakan aturan Islam yang mengandung nilai-nilai luar biasa. Orang tergesa-gesa biasanya tidak bisa mengontrol emosi dan pikirannya. Bahkan terkadang pikiran itu kosong dan emosinya dibiarkan mengeplong. Jika pikiran dan hati kosong, maka itu akan menjadi tempat kesukaan syaitan. Sehingga benarlah sabda Rasulullah SAW:

Terburu-buru untuk Lima Hal

الأناة من الله والعجلة من الشيطان

“Ketenangan itu dari Allah dan tergesa-gesa itu dari syaitan” (HR. Turmudzi dalam Sunan Turmudzi Bab Maa Jaa fii al-Ta’anni wa al-’Ajalah hadis no. 1935 juga terdapat dalam al-Muntaqa syarh Muwattha’ Malik).

Imam al-Manawiy dalam Syarh al-Jami’ al-Shaghir menjelaskan, bahwa tergesa-gesa dilarang karena hal itu akan mendatangkan was-was. Ketergesa-gesahan menghalangi keteguhan dan pemikiran matang. Al-Manawiy menambahkan bahwa tergesa-gesa itu sebenarnya adalah trik syaitan untuk menggoda manusia agar menjadi orang yang ragu dan kosong pikirannya. Imam Hasan al-Bashri mengatakan: ”Setiap shalat yang hatinya tidak hudlur maka shalat itu lebih cepat mengundang siksa”. Ketergesa-gesahan inilah yang menyebabkan hati tidak bisa hudlur. Amru bin ‘Ash mengatakan tergesa-gesa yang dilarang adalah terburu-beru pada sesuatu selain keta’atan tanpa ada rasa khouf pada Allah.

Agar shalat bisa khusyuk dan khudlu’,  al-Sayyid Abu Bakar al-Makki memberi tips, jika Anda hendak shalat, maka jangan lupa bahwa Allah melihat kepada hatimau, mengamati kamu dan sesungguhnya Dia hadir untuk menyaksikan kamu.

Imam Abdullah al-Haddad menambahkan, jika engkau tidak bisa khusyu’ maka buatlah suasana dirimu dalam shalat, seolah-olah engkau shalat pada saat itu untuk terakhir kalinya, di belakangmu sudah menuggu malaikat maut yang akan menjemputmu menuju kehadirat-Nya.

Suasana diri dan hati inilah yang barangkali dimiliki para sahabat, sehingga mereka ketika shalat begitu tenangnya berdiri sehingga kepalanya dihinggapi burung, dianggapnya sebuah tiang karena begitu tenangnya.

Sayyidina Ali r.a lebih luar biasa, pernah suatu kali, kaki beliau terkena panah ketika perang. Ali menyuruh para sahabat mencabut panahnya saat dia shalat, agar kata, Sayyidina Ali, tidak merasa sakit. Begitu nikmatnya para salaf shalih kita berdekatan dan berkomunikasi dengan Allah sehingga anak panah yang dicabut dari tubuhnya pun tak terasa. Inilah hikmah jika kita tidak terburu-buru melakukan ibadah.

Di antara hikmahnya juga adalah membentuk karakter mukmin yang bijaksana. Hadis-hadis dan petuah para salah shalih kita di atas secara lebih luas dapat dipahami sebagai pendidikan karakter untuk menjadi insan yang bijaksana (wisdom). Orang yang tidak bijaksana biasanya gagal mempertimbangkan hal-hal terselubung ini dan abai mempertimbangkan pro-kontra sebelum membuat keputusan atau mewujudkan suatu gagasan. Keteledoran sering mendatangkan akibat yang tidak diharapkan dan tak terduga.

 Dengan memegangi prinsip Amru bin ‘Ash seperti di atas,  kita bisa menyimpulkan berarti ada ketergesa yang positif. Tentunya tergesa-gesa yang positif ini bukan berarti tanpa pikiran matang dan terkesan emosional. Jika ada embel-embel positif berarti makna itu sebenarnya sama dengan bersegera.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW tergesa-gesa itu sifat tercela kecuali pada lima tempat. “Tergesa-gesa itu berasal dari syaitan, kecuali pada lima tempat, karena sesungguhnya tergesa-gesa dalam hal itu termasuk sunnah Rasulullah SAW. yaitu: Memberi makan kepada tamu, jika menginap. Mengurus jenazah orang yang sudah meninggal. Mengawinkan anak perempuan jika sudah baligh. Membayar hutang jika telah jatuh tempo pembayarannya. Dan bertaubat dari dosa jika terlanjur mengerjakannya.” Ketergesa-gesahan dalam lima perkara ini sebenarnya bukanlah ketergesa-gesahan, akan tetapi pensegerahan untuk cepat dilakukan dengan pemikiran yang jernih dan matang terlebih dahulu.

Kesimpulan yang bisa diambil adalah, bahwa dalam melakukan sesuatu aktifitas apaun kegitan itu, seorang muslim harus memiliki pertimbangan matang agar tidak menyesal di belakang. Sifat sabar, dalam hal ini berperang penting mengontrol emosi yang tergesa-gesa.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa.” (HR. Bukhari). Orang sabar dicintai Allah, orang yang tenang akan disayang Allah! Hiasilah jiwa denang sabar, tutupi jasadmu dengan takwa. Insya Allah kamu akan dekat dengan Nabi Muhammad sehingga dengan mudah menggapai cinta dan Ridla Allah Ta’ala. Wallahu a’lam bisshowab.
Dalam sebuah riwayat menyatakan bahawa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, sedang dia berjalan-jalan dia terpandang seorang anak kecil sedang mengambil wudhu' sambil menangis.
Apabila orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, "Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?"

Maka berkata anak kecil itu, "Wahai kakek saya telah membaca ayat al-Qur'an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, "Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum" yang bermaksud, " Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu." Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka."
Berkata orang tua itu, "Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalm api neraka."
Berkata anak kecil itu, "Wahai kakeku, kakek adalah orang yang berakal, tidakkah kakek lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa."
Berkata orang tua itu, sambil menangis, "Sesungguh anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?"
Sebagai seorang muslim tentu kita tahu siapa Tuhan kita. Siapa yang menciptakan kita. Siapa yang pantas kita sembah. Dan juga mengatahui penghambaan kita untuk siapa. Serta kita ini adalah hamba siapa.

Namun tahukah engkau wahai saudaraku? Sesungguhnya secara sadar tidak sadar, kita telah menjadi hamba selain Allah SWT. Mau tidak mau kita sudah termasuk orang yang menuhankan tuhan selain Dzat Yang Maha Agung lagi Maha Esa, Allah SWT. Yang kita tuhankan ini bisa  juga disebut berhala modern. Sehingga kita seringkali terjerumus dan terjatuh dalam penghambaan kepadanya. Secara tidak sadar dan sadar, kita telah menyembahnya, menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada tuhan ini. Kita rela melakukan apapun demi tuhan yang tidak layak kita sembah ini.

Materi dan duniawi beserta segala macam isinya seperti popularitas, wibawa, jabatan, dan lain sebagainya. Itu semua adalah tuhan yang kita sembah selain Allah SWT. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu. Rasulullah SAW bersabda, “Celakalah hamba-hamba dinar, dirham, dan kain beludru. Jika diberi ia rela dan jika tidak diberi ia tidak rela”. (H.R Bukhari).

Imam Shon’ani dalam Subulu as Salam syarah Bulughu al-Maram menjelaskan. Bahwasanya yang dimaksud dengan hamba dinar dan dirham adalah orang yang menghambakan dirinya kepada duniawi. Ketika ia mencari dunia seolah ia adalah hamba dari dunia itu dan dunia adalah sang raja-nya. Serta ia telah benar-benar tenggelam kepada syahwat duniawinya.

Beliau juga menambahkan. Bahawasanya yang tercela dari dunia adalah ketika seorang hamba telah menenggelamkan dan menyibukan dirinya untuk dunia. Sehingga ia melupakan kewajibannnya kepada Allah SWT. Dzat yang lebih berhak diutamakan dari apapun dan siapapun.

Marilah kita renungkan bersama akan hal ini wahai saudaraku! ‘abdullah artinya hamba Allah, menuhankan Allah SWT. Dari sini kita bisa juga maknai. Bahwasanya ‘abdu ad-dirham dan ‘abdu ad-dinar, hamba dirham dan hamba dinar. Orang yang menuhankan dirham serta dinar. Dimana dirham dan dinar adalah perlambang dari materi atau duniawi. Ini seperti yang diisyaratkan Imam Shon’ani. Namun ia tidak sampai jatuh pada hukum syirik.

Ketika kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi. Ketika kita tidak menghiraukan status harta itu. Apakah ia syubhat, haram, atau halal. Yang penting kita mendapatkannya. Bukankah itu sudah termasuk dari penghambaan kepada materi? Menyerahkan diri, melakukan apapun demi materi.
Ketika kita berusaha meraih popularitas, dan berusaha mempertahankannya mati-matian. Bahkan tak jarang  menempuh jalan mistik yang tidak seharusnya. Dan juga membahayakan diri sendiri dengan konskuensinya. Bahkan tak jarang demi popularitas rela merendahkan diri dengan mengobral aurat misalnya. Atau memperdagangkan diri secara langsung dan tidak langsung. Bukankah itu berati kita sudah menghambakan diri kita untuk pupolaritas, duniawi? Serta mengalahkan Allah SWT Dzat Yang Maha Agung dengan segala aturannya yang sempurna?

Oleh : Agustiar Nur Akbar
Penulis adalah sahabat Republika Online yang tengah menimba ilmu di Universitas Al Azhar, Kairo
Sumber : Republika .co.id
Dalam kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah disebutkan, "Yang tidak meyuarakan kebenaran adalah setan bisu." (Lihat hlm 62 bab as-shumti).  Ungkapan ini bukan hadis, tapi dikutip oleh banyak ulama dalam fatwa dan kitab-kitab mereka. Ibnu Taimiyah menyebutkannya dalam Majmu' fatawa. Ibnu al-Qayyim juga menukilnya. Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim juga mengutipnya dari Abi al-Qasim al-Qusyairy yang meriwayatkan dari Abu 'Ali ad-Daqqaq an-Naisaburi as-Syafi'i. Kemungkinan besar Abu Ali ad-Daqqaq inilah yang pertama mengutip ungkapan di atas. Kendati bukan hadis, isi dan jiwa kalimat tersebut sejalan dengan QS Ali Imran ayat 104, at-Taubah:71, dan lainnya. Juga seirama dengan makna banyak hadis amar makruf dan nahi mungkar.

Setiap mukmin berkewajiban untuk mengingkari yang batil dan menyeru kepada yang makruf sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah bersabda, "Barang siapa di antara kamu sekalian melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan (atau kekuasaannya) bila tidak mampu hendaklah mengubahnya dengan lisannya (nasihat) dan bila tidak kuasa maka hendaklah mengingkari dengan hatinya, yang terakhir ini adalah selemah-lemah iman." (HR Imam Muslim).

Bila seorang Muslim tidak melakukan nahi mungkar padahal mampu dan tidak ada penghalang maka dia adalah setan gagu. Lebih parah lagi bila ada orang yang menyuarakan kebatilan, dia dijuluki sebagai jubir setan.

Kita sering menyaksikan Muslim yang komitmen menegakkan amar makruf dan nahi mungkar tetapi tidak mau menyuarakan yang hak ketika melihat pelanggaran yang sudah merata di masyarakat. Di antara sebabnya, rasa takut dimusuhi ahlul bathil, khawatir dicopot dari jabatannya, takut diisolir dari masyarakatnya seperti yang dialami Siami di Surabaya atau disebabkan hal-hal lainnya.

Kebaikan apa yang bisa diharapkan dari seorang yang tidak menyuarakan yang hak ketika melihat larangan Allah ditabrak, batas-batas ajaran agama dilanggar dan ketentuan agama ditinggalkan? Bukankah musibah agama terbesar datang dari mereka yang merasa enak hidupnya, dan memiliki jabatan mapan tapi tidak peduli dengan musibah yang menimpa agamanya? 

Umat Islam masih  menjadi umat terbaik bila amar makruf dan nahi mungkar ditegakkan. "Kamu adalah umat Yang terbaik yang dilahirkan  untuk manusia, manyuruh kepada yang makruf  dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah." (Ali Imran, 110).

Ketika maksiat berkeliaran di tengah-tengah umat manusia, penyelewengan merata di mana-mana sedangkan setan bisu  dan jubir setan semakin banyak, maka Allah akan menimpakan kepada umat ini beberapa malapetaka yang mengerikan: pertama, diberi musibah merata; kedua, umat akan dikuasai preman; ketiga, manusia akan saling bunuh; dan keempat, doa ulama tidak dikabulkan.

Abu Nu'aim meriwayatkan dalam Kitab Al-Hilyah, dari Abur Riqaad, bahwa ia berkata, "Hendaknya kamu memerintahkan yang makruf, melarang yang mungkar, dan menyuruh kebaikan atau kamu sekalian akan disiksa bersama atau kamu diperintah oleh orang-orang jahat di antara kamu kemudian bila para tokohnya berdoa tidak lagi akan dikabulkan. Na'udzubillah mindzalik.

Oleh Prof Dr KH Achmad Satori
Sumber : Repubika.co.id
Di dalam kitab Fiqus-Sunnah dikutip sebuah diskusi mencekam tentang orang yang meninggalkan shalat.  Di dalam Thabaqat asy-Syafi'iyah disebutkan bahwa Syafi'i dan Ahmad RA pernah berdiskusi tentang hukumnya orang yang meninggalkan shalat.

Berkata Syafi'i:  “Hai Ahmad, apakah menurut pendapat Anda ia kafir?”.  Ujar Ahmad:  “Memang”.  Syafi'i:  “Jika ia kafir, bagaimana caranya masuk Islam?”.  Ahmad:  “Hendaklah ia mengatakan:  Laa ilaha illallah Muhammadarrasulullah”.  Syafi'i: “Orang itu masih mempertahankan ucapan tersebut dan belum pernah meninggalkannya”.  Ahmad:  “Kalau begitu, ia masuk Islam dengan melakukan Shalat”.  Syafi'i:  “Shalat orang kafir tidak sah, dengan itu ia tak dapat dikatakan masuk Islam”.  Maka Ahmad pun diam, dan semoga kedua imam itu diberi rahmat oleh Allah SWT.

Membaca kisah itu aku teringat kembali nasihat Buya Hamka tentang shalat.  Nilai shalat itu kata beliau, ibarat angka satu di depan angka sepuluh, seratus, seribu, sejuta, semilyar atau bahkan lebih dari itu.  Kalau tidak ada angka satu di depan (atau nol shalatnya), maka berapapun angka nol di belakangnya, tidak akan ada gunanya.  Pantaslah jika demikian, karena bagi seorang muslim, shalat adalah amal yang mula-mula akan diperhitungkan, bukan kebaikan lainnya.

Memang berat mendirikan dan memelihara shalat.  Bahkan yang mengerjakan shalat pun masih kerap melalaikannya.  Apalagi iman kadang naik dan turun, hati sering berbolak balik.  Belum lagi kesibukan yang tak kunjung usai membuat waktu terasa kian sempit.  Tak terasa, shalat wajibpun akhirnya ditinggalkan juga.

Suatu hari, seorang pernah menasehatiku.  “Berusahalah untuk sedapatnya mengerjakan amalan sunah, karena ia adalah hadiah dari Allah, sekaligus benteng imanmu”.  Terus terang aku kurang dapat memahami kalimat pendek yang disampaikan dengan tulus itu. Yang pernah kupelajari di buku-buku pelajaran agama adalah bahwa, sunnah artinya jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan tidak berdosa, amat sederhana.  Tapi apa maksudnya amalan sunnah dapat membentengi iman?

Ketika badan sedang  tak sehat, waktu tak banyak, tenggat waktu mendesak, baru sedikit demi sedikit kupahami maknanya.  Ketika badan sedang payah, atau kesibukan sedang memuncak, kadang kita terpaksa harus mengurangi ibadah.  Seorang yang terbiasa beramal sunnah tentu amal sunnahnya-lah yang mula-mula terpangkas saat imannya sedang turun, sehingga selamatlah amal wajibnya.  Jika kemudian diperbaharui lagi imannya, maka kembalilah dia ke tingkat semula.  Tetapi jika terus menurun, masih ada benteng amalan sunnah selanjutnya.  Shalat sunnah rawatib misalnya, akan menjadi benteng shalat wajib 5 waktu.  Demikian pula bacaan sunnah di dalam shalat wajib, menjadi benteng dari bacaan dan perbuatan wajib di dalam shalatnya.

Baru kusadari bahwa, kalau saja seseorang hanya sekedar melakukan amalan wajib saja (minimalis), maka dalam kondisi tertentu, ia akan berada di dalam bahaya.  Kalau shalat wajib sudah ditinggalkan, maka apa lagi nilai hidup kita di sisi Allah.  “Ya Robb, ampunilah hamba-Mu yang sering menganggap ringan dosa meninggalkan shalat, melalaikan, bahkan meninggalkannya, baik terang-terangan ataupun tersembunyi, sengaja maupun tidak”. Wallahu 'a'lam,
 

Oleh: Abi Muhammad Ismail Halim

Penulis adalah sahabat Republika Online di Texas
Postingan Lama Beranda
  • Recent Posts
  • Comments
Buku Tamu
Advertisement
.
2010 Simplex Enews. All rights reserved.
Designed by SimplexDesign